Cari Blog Ini

Memuat...

selamat datang

sebuah perjuangan akan membuat kehidupan in akan lebih bermakna, terlebih dengan adanya cinta dari yang maha kuasa

KIMIA

kehidupan selalu mengikuti rotasi kehidupan dimana setiap langkah diperhitungkan dengan perkembangan zaman

BAB I
PENDAHULUAN
1.      Tujuan
·         Mempelajari secara umum sejarah dan defenisi ilmu Kimia.
·         Mempelajari secara umum sejarah dan defenisi ilmu Kimia Organik.
2.      Landasan Teori
2.1.Ilmu Kimia
Kimia, dari bahasa Arab yaitu كيمياء "seni transformasi" dan bahasa Yunani yaitu χημεία khemeia "alkimia". Jadi kimia adalah ilmu yang mempelajari tentang komposisi dan sifat zat atau materi dari skala atom hingga molekul, perubahan atau transformasi serta interaksi mereka untuk membentuk materi yang ditemukan sehari-hari. ( Wikipedia: 2009 )
Kimia yang diajarkan pada sekolah menengah sering disebut "kimia umum" dan ditujukan sebagai pengantar terhadap banyak konsep-konsep dasar dan untuk memberikan pelajar alat untuk melanjutkan ke subjek lanjutannya. Banyak konsep yang dipresentasikan pada tingkat ini sering dianggap tak lengkap dan tidak akurat secara teknis. ( Wikipedia: 2009 )
2.2.Ilmu Kimia Organik
Kimia organik merupakan percabangan studi ilmiah dari ilmu kimia mengenai struktur, sifat, komposisi, reaksi, dan sintesis senyawa organik. Senyawa organik dibangun terutama oleh karbon dan hidrogen, dan dapat mengandung unsur-unsur lain seperti nitrogen, oksigen, fosfor, halogen dan belerang. Definisi asli dari kimia organik ini berasal dari kesalahpahaman bahwa semua senyawa organik pasti berasal dari makhluk hidup, namun telah dibuktikan bahwa ada beberapa perkecualian. Bahkan sebenarnya, kehidupan juga sangat bergantung pada kimia anorganik; sebagai contoh, banyak enzim yang mendasarkan kerjanya pada logam transisi seperti besi dan tembaga, juga gigi dan tulang yang komposisinya merupakan campuran dari senyama organik maupun anorganik. ( Wikipedia: 2009 )
Kimia organik sebagai suatu ilmu secara umum disetujui telah dimulai pada tahun 1828 dengan sintesis urea organik oleh Friedrich Woehler yang secara tidak sengaja menguapkan larutan amonium sianat NH4OCN. ( Wikipedia: 2009 )









BAB II
PEMBAHASAN

1.                  Pengantar Ilmu Kimia Secara Umum dan Defenisinya
Kimia (dari bahasa Arab كيمياء "seni transformasi" dan bahasa Yunani χημεία khemeia "alkimia") adalah ilmu yang mempelajari mengenai komposisi dan sifat zat atau materi dari skala atom hingga molekul serta perubahan atau transformasi serta interaksi mereka untuk membentuk materi yang ditemukan sehari-hari. Kimia juga mempelajari pemahaman sifat dan interaksi atom individu dengan tujuan untuk menerapkan pengetahuan tersebut pada tingkat makroskopik. Menurut kimia modern, sifat fisik materi umumnya ditentukan oleh struktur pada tingkat atom yang pada gilirannya ditentukan oleh gaya antaratom.
Secara umum, kimia mempelajari komposisi, struktur, dan sifat zat kimia dan transformasi yang dialaminya.
Kimia sering disebut sebagai “ilmu pusat” atau “center of sains” karena menghubungkan berbagai ilmu lain, seperti fisika, ilmu bahan, nanoteknologi, biologi, farmasi, kedokteran, bioinformatika, dan geologi. Koneksi ini timbul melalui berbagai subdisiplin yang memanfaatkan konsep-konsep dari berbagai disiplin ilmu. Sebagai contoh, kimia fisik melibatkan penerapan prinsip-prinsip fisika terhadap materi pada tingkat atom dan molekul.
Kimia berhubungan dengan interaksi materi yang dapat melibatkan dua zat atau antara materi dan energi, terutama dalam hubungannya dengan hukum pertama termodinamika. Kimia tradisional melibatkan interaksi antara zat kimia dalam reaksi kimia, yang mengubah satu atau lebih zat menjadi satu atau lebih zat lain. Terkadang, reaksi ini digerakkan oleh pertimbangan entalpi, seperti ketika dua zat berentalpi tinggi seperti hidrogen dan oksigen elemental bereaksi membentuk air, zat dengan entalpi lebih rendah. Reaksi kimia dapat difasilitasi dengan suatu katalis, yang umumnya merupakan zat kimia lain yang terlibat dalam media reaksi tapi, tidak dikonsumsi (contohnya adalah asam sulfat yang mengkatalisasi elektrolisis air) atau fenomena immaterial (seperti radiasi elektromagnet dalam reaksi fotokimia). Kimia tradisional juga menangani analisis zat kimia, baik di dalam maupun di luar suatu reaksi, seperti dalam spektroskopi.
Semua materi normal terdiri dari atom atau komponen-komponen subatom yang membentuk atom; proton, elektron, dan neutron. Atom dapat dikombinasikan untuk menghasilkan bentuk materi yang lebih kompleks seperti ion, molekul, atau kristal. Struktur dunia yang kita jalani sehari-hari dan sifat materi yang berinteraksi dengan kita ditentukan oleh sifat zat-zat kimia dan interaksi antar mereka. Baja lebih keras dari besi karena atom-atomnya terikat dalam struktur kristal yang lebih kaku. Kayu terbakar atau mengalami oksidasi cepat karena ia dapat bereaksi secara spontan dengan oksigen pada suatu reaksi kimia jika berada di atas suatu suhu tertentu.
Zat cenderung diklasifikasikan berdasarkan energi, fase, atau komposisi kimianya. Materi dapat digolongkan dalam 4 fase, urutan dari yang memiliki energi paling rendah adalah padat, cair, gas, dan plasma. Dari keempat jenis fase ini, fase plasma hanya dapat ditemui di luar angkasa yang berupa bintang, karena kebutuhan energinya yang teramat besar. Zat padat memiliki struktur tetap pada suhu kamar yang dapat melawan gravitasi atau gaya lemah lain yang mencoba merubahnya. Zat cair memiliki ikatan yang terbatas, tanpa struktur, dan akan mengalir bersama gravitasi. Serta gas bertindak sebagai partikel bebas. Sementara itu, plasma hanya terdiri dari ion-ion yang bergerak bebas; pasokan energi yang berlebih mencegah ion-ion ini bersatu menjadi partikel unsur. Satu cara untuk membedakan ketiga fase pertama adalah dengan volume dan bentuknya; kasarnya, zat padat memeliki volume dan bentuk yang tetap, zat cair memiliki volume tetap tapi tanpa bentuk yang tetap, sedangkan gas tidak memiliki baik volume ataupun bentuk yang tetap, gs mengikuti bentuk dari wadah yang ditepatinya, contoh gas berbentuk seperti balon ketika di dalam balon.
Air (H2O) berbentuk cairan dalam suhu kamar karena molekul-molekulnya terikat oleh gaya antarmolekul yang disebut ikatan Hidrogen. Ikatan hidrogen pada air memiliki cukup energi untuk mempertahankan molekul air untuk tidak terpisah satu sama lain, tapi tidak untuk mengalir, yang menjadikannya berwujud cairan dalam suhu antara 0 °C sampai 100 °C pada permukaan laut. Menurunkan suhu atau energi lebih lanjut mengizinkan organisasi bentuk yang lebih erat, menghasilkan suatu zat padat, dan melepaskan energi. Peningkatan energi akan mencairkan es walaupun suhu tidak akan berubah sampai semua es cair. Peningkatan suhu air pada gilirannya akan menyebabkannya mendidih sewaktu terdapat cukup energi untuk mengatasi gaya tarik antarmolekul dan selanjutnya memungkinkan molekul untuk bergerak menjauhi satu sama lain.
Ilmuwan yang mempelajari kimia sering disebut kimiawan. Sebagian besar kimiawan melakukan spesialisasi dalam satu atau lebih subdisiplin. Kimia yang diajarkan pada sekolah menengah sering disebut “kimia umum” dan ditujukan sebagai pengantar terhadap banyak konsep-konsep dasar dan untuk memberikan alat kepada para pelajar untuk melanjutkan ke subjek lanjutannya. Banyak konsep yang dipresentasikan pada tingkat ini sering dianggap tak lengkap dan tidak akurat secara teknis. Walaupun demikian, hal tersebut merupakan alat yang luar biasa. Kimiawan secara reguler menggunakan alat dan penjelasan yang sederhana dan elegan ini dalam karya mereka, karena terbukti mampu secara akurat membuat model reaktivitas kimia yang sangat bervariasi.
Ilmu kimia secara sejarah merupakan pengembangan baru, tapi ilmu ini berakar pada alkimia yang telah dipraktikkan selama berabad-abad di seluruh dunia. Akar ilmu kimia dapat dilacak hingga fenomena pembakaran. Api merupakan kekuatan mistik yang mengubah suatu zat menjadi zat lain dan karenanya merupakan perhatian utama umat manusia. Api yang menuntun manusia pada penemuan besi dan gelas. Setelah emas ditemukan dan menjadi logam berharga, banyak orang yang tertarik menemukan metode yang dapat merubah zat lain menjadi emas. Hal ini menciptakan suatu protosains yang disebut Alkimia. Alkimia dipraktikkan oleh banyak kebudayaan sepanjang sejarah dan sering mengandung campuran filsafat, mistisisme, dan protosains.
Alkimiawan menemukan banyak proses kimia yang menuntun pada pengembangan kimia modern. Seiring berjalannya waktu, alkimiawan-alkimiawan terkemuka (terutama Abu Musa Jabir bin Hayyan dan Paracelsus) mengembangkan alkimia menjauh dari filsafat dan mistisisme dan mengembangkan pendekatan yang lebih sistematik dan ilmiah. Alkimiawan pertama yang dianggap menerapkan metode ilmiah terhadap alkimia dan membedakan kimia dan alkimia adalah Robert Boyle (1627–1691). Walaupun demikian, kimia seperti yang kita ketahui sekarang diciptakan oleh Antoine Lavoisier dengan hukum kekekalan massanya pada tahun 1783. Penemuan unsur kimia memiliki sejarah yang panjang yang mencapai puncaknya dengan diciptakannya tabel periodik unsur kimia oleh Dmitri Mendeleyev pada tahun 1869.
Penghargaan Nobel dalam Kimia yang diciptakan pada tahun 1901 memberikan gambaran bagus mengenai penemuan kimia selama 100 tahun terakhir. Pada awal abad ke-20, sifat subatomik atom diungkapkan dan ilmu mekanika kuantum mulai menjelaskan sifat fisik ikatan kimia. Pada pertengahan abad ke-20, kimia telah berkembang sampai dapat memahami dan memprediksi aspek-aspek biologi yang melebar ke bidang biokimia. Industri kimia mewakili suatu aktivitas ekonomi yang penting.

2.                  Sejarah Kimia Secara Umum
Sejarah kimia dimulai lebih dari 4000 tahun yang lalu dimana bangsa Mesir mengawali dengan the art of synthetic “wet” chemistry. 1000 tahun SM, masyarakat purba telah menggunakan tekhnologi yang akan menjadi dasar terbentuknya berbagai macam cabang ilmu kimia. Ekstraksi logam dari bijihnya, fermentasi bir dan anggur, membuat keramik dan kaca, membuat pewarna untuk kosmetik dan lukisan, mengekstraksi bahan kimia dari tumbuhan untuk obat-obatan dan parfum, membuat keju, pakaian, membuat paduan logam seperti perunggu dan kuningan. 
Mereka tidak berusaha untuk memahami hakikat dan sifat materi yang mereka gunakan serta perubahannya, sehingga pada zaman tersebut ilmu kimia belum lahir. Tetapi dengan percobaan dan catatan hasilnya merupakan sebuah langkah menuju ilmu pengetahuan.
Para ahli filsafat Yunani purba sudah mempunyai pemikiran bahwa materi tersusun dari partikel-partikel yang jauh lebih kecil yang tidak dapat dibagi-bagi lagi (atomos). Namun konsep tersebut hanyalah pemikiran yang tidak ditunjang oleh eksperimen, sehingga belum pantas disebut sebagai teori kimia.
Ilmu kimia sebagai ilmu yang melibatkan kegiatan ilmiah dilahirkan oleh para ilmuwan muslim bangsa Arab dan Persia pada abad ke-8. Salah seorang bapak ilmu kimia yang terkemuka adalah Jabir ibn Hayyan (700-778), yang lebih dikenal di Eropa dengan nama latinnya, Geber. Ilmu yang baru itu diberi nama al-kimiya (dari bahasa Arab yang berarti “perubahan materi”). Dari kata al-kimiya inilah segala bangsa di muka bumi ini meminjam istilah: alchemi (Latin), chemistry (Inggris), chimie (Perancis), chemie (Jerman), chimica (Italia) dan kimia (Indonesia).
Sejarah kimia dapat dianggap dimulai dengan pembedaan kimia dengan alkimia oleh Robert Boyle (1627–1691) melalui karyanya The Sceptical Chymist (1661). Baik alkimia maupun kimia mempelajari sifat materi dan perubahan-perubahannya tapi, kebalikan dengan alkimiawan, kimiawan menerapkan metode ilmiah.
Pada tahun 1789 terjadilah dua jenis revolusi besar di Perancis yang mempunyai dampak bagi perkembangan sejarah dunia. Pertama, revolusi di bidang politik tatkala penjara Bastille diserbu rakyat dan hal ini mengawali tumbuhnya demokrasi di Eropa. Kedua, revolusi di bidang ilmu tatkala Antoine Laurent Lavoisier (1743-1794) menerbitkan bukunya, Traite Elementaire de Chimie, hal ini mengawali tumbuhnya kimia modern. Dalam bukunya Lavoisier mengembangkan hukum kekekalan massa. Penemuan unsur kimia memiliki sejarah yang panjang yang mencapai puncaknya dengan diciptakannya tabel periodik unsur kimia oleh Dmitri Mendeleyev pada tahun 1869.
Ilmu kimia berkembang dari tiga sumber, yaitu alchemy/alkimia, ilmu kedokteran dan kemajuan teknologi.
Alkimia adalah protosains yang menggabungkan unsur-unsur kimia, fisika, astrologi, seni, semiotika, metalurgi, kedokteran, mistisisme, dan agama. Kata alkimia berasal dari Bahasa Arab al-kimiya atau al-khimiya (الكيمياء atau الخيمياء), yang mungkin dibentuk dari partikel al- dan kata Bahasa Yunani khumeia (χυμεία) yang berarti “mencetak bersama”, “menuangkan bersama”, “melebur”, “alloy”, dan lain-lain (dari khumatos, “yang dituangkan, batang logam”). Etimologi lain mengaitkan kata ini dengan kata “Al Kemi”, yang berarti “Seni Mesir”, karena bangsa Mesir Kuno menyebut negerinya “Kemi” dan dipandang sebagai penyihir sakti di seluruh dunia kuno.
Alkimia mulai menyebar melalui Timur Tengah sampai ke Eropa, saat itu alkimia sangat dipengaruhi oleh pemikiran barat. Alkimia sangat dipengaruhi oleh ilmuwan-ilmuwan Yunani yang menyatakan bahwa materi dapat berubah menjadi material yang lain yang lebih sempurna. Selama 1500 tahun, tradisional alkimia mempelajari tetang materi dan perubahannya. Mereka mencari berbagai cara untuk merubah material yang tidak berharga seperti tembaga menjadi sesuatu yang sangat bernilai seperti emas (transmutasi logam). Hal ini yang menyebabkan para ahli alkimia melukis objek-objek tembaga dengan lapisan emas untuk membodohi para pengikutnya.
Banyak penemuan dalam bidang alkimia yang sangat berarti dalam proses kimia. Destilasi, perkolasi dan ekstraksi adalah beberapa metode penting yang ditemukan dalam perkembangan alkimia.
Alkimia juga mempengaruhi praktek kedokteran di Eropa. Sejak abad ke-13, destilasi tanaman herbal telah digunakan untuk pengobatan tradisional. Paracelsus, seorang ahli alkimia dan fisikawan penting dalam sejarah menyatakan bahwa tubuh manusia merupakan suatu sistem kimia yang keseimbangan senyawa di dalamnya dapat digantikan oleh obat-obatan/perawatan kedokteran. Pengikut paracelsus yang kemudian menemukan mineral-drugs pada abad ke-17.
Selain dalam bidang alkimia dan kedokteran, ilmu kimia juga dipengaruhi oleh perkembangan teknologi. Selama ribuan tahun manusia mencoba untuk mengembangkan teknologi yang dapat menghasilkan perubahan material. Pembuatan tembikar, prose dying dan metalurgi turut memberikan pengaruh terhadap pemikiran tentang perubahan material. Pada abad pertengahan, teknologi pembuatan tepung, metalurgi, dan geologi mulai didokumenkan. Banyak buku-buku yang menjelaskan tentang metode pemurnian, assay dan penggunaan timbangan. (Wikipedia: 2009)
3.                  Cabang ilmu kimia Secara Umum
Kimia umumnya dibagi menjadi beberapa bidang utama. Terdapat pula beberapa cabang antar-bidang dan cabang-cabang yang lebih khusus dalam kimia.
*      Kimia analitik adalah analisis cuplikan bahan untuk memperoleh pemahaman tentang susunan kimia dan strukturnya. Kimia analitik melibatkan metode eksperimen standar dalam kimia. Metode-metode ini dapat digunakan dalam semua subdisiplin lain dari kimia, kecuali untuk kimia teori murni.
*      Biokimia mempelajari senyawa kimia, reaksi kimia, dan interaksi kimia yang terjadi dalam organisme hidup. Biokimia dan kimia organik berhubungan sangat erat, seperti dalam kimia medisinal atau neurokimia. Biokimia juga berhubungan dengan biologi molekular, fisiologi, dan genetika.
*      Kimia anorganik mengkaji sifat-sifat dan reaksi senyawa anorganik. Perbedaan antara bidang organik dan anorganik tidaklah mutlak dan banyak terdapat tumpang tindih, khususnya dalam bidang kimia organologam.
*      Kimia organik mengkaji struktur, sifat, komposisi, mekanisme, dan reaksi senyawa organik. Suatu senyawa organik didefinisikan sebagai segala senyawa yang berdasarkan rantai karbon.
*      Kimia fisik mengkaji dasar fisik sistem dan proses kimia, khususnya energitika dan dinamika sistem dan proses tersebut. Bidang-bidang penting dalam kajian ini di antaranya termodinamika kimia, kinetika kimia, elektrokimia, mekanika statistika, dan spektroskopi. Kimia fisik memiliki banyak tumpang tindih dengan fisika molekular. Kimia fisik melibatkan penggunaan kalkulus untuk menurunkan persamaan, dan biasanya berhubungan dengan kimia kuantum serta kimia teori.
*      Kimia teori adalah studi kimia melalui penjabaran teori dasar (biasanya dalam matematika atau fisika). Secara spesifik, penerapan mekanika kuantum dalam kimia disebut kimia kuantum. Sejak akhir Perang Dunia II, perkembangan komputer telah memfasilitasi pengembangan sistematik kimia komputasi, yang merupakan seni pengembangan dan penerapan program komputer untuk menyelesaikan permasalahan kimia. Kimia teori memiliki banyak tumpang tindih (secara teori dan eksperimen) dengan fisika benda kondensi dan fisika molekular.
*      Kimia nuklir mengkaji bagaimana partikel subatom bergabung dan membentuk inti. Transmutasi modern adalah bagian terbesar dari kimia nuklir dan tabel nuklida merupakan hasil sekaligus perangkat untuk bidang ini.

4.                  Pengantar Ilmu Kimia Organik dan Defenisinya
Dalam pembahasan ini akan dibahas perkembangan dan sejarah dari kimia organik. Kimia organik yang merupakan salah satu cabang dari ilmu kimia sangat penting, karena dalam aplikasi kehidupan sangat banyak menyangkut tentang hal yang berkaitan dengan kimia organik.
Kimia organik adalah percabangan studi ilmiah dari ilmu kimia mengenai struktur, sifat, komposisi, reaksi, dan sintesis senyawa organik. Senyawa organik dibangun terutama oleh karbon dan hidrogen, dan dapat mengandung unsur-unsur lain seperti nitrogen, oksigen, fosfor, halogen dan belerang. Definisi asli dari kimia organik ini berasal dari kesalahpahaman bahwa semua senyawa organik pasti berasal dari organisme hidup, namun telah dibuktikan bahwa ada beberapa perkecualian. Bahkan sebenarnya, kehidupan juga sangat bergantung pada kimia anorganik; sebagai contoh, banyak enzim yang mendasarkan kerjanya pada logam transisi seperti besi dan tembaga, juga gigi dan tulang yang komposisinya merupakan campuran dari senyama organik maupun anorganik. Contoh lainnya adalah larutan HCl, larutan ini berperan besar dalam proses pencernaan makanan yang hampir seluruh organisme (terutama organisme tingkat tinggi) memakai larutan HCl untuk mencerna makanannya, yang juga digolongkan dalam senyawa anorganik. Mengenai unsur karbon, kimia anorganik biasanya berkaitan dengan senyawa karbon yang sederhana yang tidak mengandung ikatan antar karbon misalnya oksida, garam, asam, karbid, dan mineral. Namun hal ini tidak berarti bahwa tidak ada senyawa karbon tunggal dalam senyawa organik misalnya metan dan turunannya.

5.                 Sejarah Ilmu Kimia Organik

Kimia organik sebagai suatu ilmu secara umum disetujui telah dimulai pada tahun 1828 dengan sintesis urea organik oleh Friedrich Woehler, yang secara tidak sengaja menguapkan larutan amonium sianat NH4OCN. Kimia organik sebagai suatu ilmu secara umum disetujui telah dimulai pada tahun 1828 dengan sintesis urea organik oleh Friedrich Woehler, yang secara tidak sengaja menguapkan larutan amonium sianat NH4OCN.
Dalam buku Kimia Organik Edisi ketiga dijelaskan bahwa kimia organik pada tahun 1850, kimia organik didefenisikan sebagai kimia dari senyawayang datang dari benda hidup, sehingga timbul istilah Organik. Defenisi ini mulai usang setelah sekitartahun 1900. Pada saat itu , ahlikimia mensintaesis senyawa kimia baru dilaboratorium, dan banyak dari senyawa tersebut tidak dari mahluk hidup. Sehingga waktu itu kimia organik menjadi kimia karbon. Defenisi inipun tidak terlalu tepat karena beberapa senyawa karbon seperti karbon dioksida, natrium karbonat, dan klium sianida berasal dari senyawa senyawa anorganik. Namun demikian defenisi ini diterima, karena semua senyawa organik mengandung unsur karbon.
Karbon hanya satu unsur dari susunan unsur berkala. Kimia karbon memiliki keistimewaan sendiri karena unsur karbon dapat beriktan secara kovalen denagan unsur karbon lainnya atatu dengan unsur lainnya yang bukan dari karbon. Beriktan dengan berbagai macam cara, sehingga menjadikan banayak macam senyawa yang dihasilkan. Mulai dari senyawa sederhana seperti metana ( CH4 ) sampai kepada hal yang kompleks seperti asam nukleat dan DNA. Ilmu kimia organik sudah banyak manfaatnya dan banyak membantu dari cabang ilmu kimia lainnya, seperti kedokteran, pertanian, biokimia, mikrobiologi, dan cabang ilmu lainnya. Serat-serat sintetik juga berasal dari kimia organik, dan bahan bakar dari bumi pun berasal dari senyawa organik. Sehingga cakupan dari kimia organik sangat luas.

6.                  Cakupan Ilmu Kimia Organik Secara Umum
Dalam buku Pengantar Ilmu Kimia Organik jilid 1 menerangkan bahwa cakupan Ilmu kimia Orgasnik sangatlah luas, seperti Struktur dan Analisa, Senyawa Hidrokarbon, Alkena, Alkuna, Senyawa Aromatik, Arena, Stereo Kimia, Alkil halogenida, Alkohol, Asam Karboksilat, Aldehida, Keton dan masih banyak lagi Sub Pokok pembahasan dari kimia Organik.
Dalam mempelajari kimia organik terlebih dahulu kita harus paham apa itu yang dimaksud dengan kimia secara umum dan kemudian kita harus mengerti defenisi dan sejarah kimia organik. Secara umum materi pembelajaran ini dibahas dalam Pengantar Kimia Karbon.
Dalam buku Fesenden dan Fesenden, dalam mempelajari kimia Organik dimulai dengan mempelajari dasar dari kimia organik yaitu tentang ikatan kovalen. Sebelum mempelajari struktur, nomenklatur, dan reaksi kimia organik secara rinci.
Pada buku Bahan Ajar Kimia Organik I oleh Dra. Eni Dwiyanti, MS dijelaskan beberapa hal uatam yang perlu diketahui sebelum mempelajari kimia organik secara mendalam, sebagai berikut :
6.1. Pengantar Kimia Karbon
Pengantar kimia karbon menjelaskan secara umum asal mula dari kimia organik, defenisi kimia organik dan apasaja yang dipelajari dalam kimia organik dan manfaat kimia organik, hal ini telah dijelas pada Sub Bab pengantar kimia Organik sebelumnya.
6.2. Atom Karbon dalam Sistem Periodik
Atom karbon yang menjadi unsur penting selain dari unsur-unsur lainnya dalam sestem periodic terdapat pada periode kesatu dan kedua dalam daftar berkala unsur (sistem Periodik unsur). Atom lainnya yang berpewranpenting seperti H (hydrogen), N (nitrogen), O (oksigen), P (phosphor), S (sulfur) dan lainnya. Dalam pembahasan ini kita akan mempelajari tata letak dari atom-atom dalam sistem periodic, jari-jari atom, keelktronagativan, tarikan electron valensi, dan sebagainya. Dapat pula mempelajari ikatan atom-atom seperti:
*      Ikatan ion, ialah ikatan yang terjadi antara unsur elektronegati dan elektropositif atau dapat didefenisika sebagai ikatan antar ion negative dengan ion positif
*      Ikatan kovalen, ialah ikatan yang terbentuk dengan jalan penggunaan bersama sepasang electron atau lebih
(1)               Ikatan kovalen tunggal, ialah ikatan jika sepasang electron digunakan bersama oleh dua atom, masing-masing menyumbang satu electron
(2)               Ikatan kovalen rangkap, ialah ikatan jika dua pasang electron digunakan bersama-sama oleh dua atom
(3)               Ikatan rangkap tiga, ialah jika tiga pasang elktron digunakan bersama-sama oleh dau atom.
6.3. Hibridasi Atom Karbon dalam Pembentukan Senyawa Organik
Ada 3 hibdridisasi dalam kimia organik diantaranya :
*      Hibdridisasi sp3
Dari hasil ekperimen membuktikan bahwa  hibridisasi sp3 mempunyai 4 ikatan kovalen,  ( ikatan C-H), ikatan C-H mempunyai panjang ikatan 1,09 Å, energy disionisasi ikatan 104 kkal/mol, sudut ikatan antara setiap ikatan H-C-H adalah 109,5’.
*      Hibdridisasi sp2
Bila karbon terikat ke atom lasin oleh ikatan rangkap 2 maka atom C dalam keadaan hibridasi sp2. Maka : orbital iktan sp2 karbon terbentuk dari hibridasi 1 orbitsl 2 s dan 1 orbital dari 2 p ( karena 1 orbital atom C tidak terhibridasi), karena 3 orbital yangdigunakan untuk membentuk orbital sp2 maka dihasilkan 3 orbital sp2, masing mempunyai orbital yang sama dengan sp 3. Yaitu mempunyai 1 elektron yang digunakan untuk iktan
*      Hibdridisasi sp
Bila karbon yang terikat ke atom lain oleh 3 atau ikatan rangkap 2 terkumulasi, maka atom C dalam keadaan hibridasi.
6.4 Rumus Kimia dan Isomer Struktur
1)      Rumus empiris
2)      Rumus molekul
3)      Rumus struktur
4)      Rumus struktur termampatkan
5)      Dan isomeri struktur.
6.5 Alkana, Sikloalkan dan Tata Nama
6.6 Penggolongan Senyawa Organik Menurut Gugus Fungsi dan Beberapa Senyawa Organik yang Bergugus Fungsi.





















BAB III
PENUTUP
1.        Kesimpulan
*      Kimia secara umum  adalah ilmu yang mempelajari mengenai komposisi dan sifat zat atau materi dari skala atom hingga molekul serta perubahan atau transformasi serta interaksi mereka untuk membentuk materi yang ditemukan sehari-hari. Kimia pada awalnya dimulai lebih dari 4000 tahun yang lalu dimana bangsa Mesir mengawali dengan the art of synthetic "wet" chemistry. 1000 tahun SM, masyarakat purba telah menggunakan tehnologi yang akan menjadi dasar terbentuknya berbagai macam cabang ilmu kimia. Ekstrasi logam dari bijihnya, membuat keramik dan kaca, fermentasi bir dan anggur, membuat pewarna untuk kosmetik dan lukisan, mengekstraksi bahan kimia dari tumbuhan untuk obat-obatan dan parfum, membuat keju, pewarna, pakaian, membuat paduan logam seperti perunggu. Para ahli filsafat Yunani purba sudah mempunyai pemikiran bahwa materi tersusun dari partikel-partikel yang jauh lebih kecil yang tidak dapat dibagi-bagi lagi (atomos). Namun konsep tersebut hanyalah pemikiran yang tidak ditunjang oleh eksperimen, sehingga belum pantas disebut sebagai teori kimia.sejarah kimia dapat dianggap dimulai dengan pembedaan kimia dengan alkimia oleh Robert Boyle (1627–1691) melalui karyanya The Sceptical Chymist (1661). Baik alkimia maupun kimia mempelajari sifat materi dan perubahan-perubahannya tapi, kebalikan dengan alkimiawan, kimiawan menerapkan metode ilmiah. Pada tahun 1789 terjadilah dua jenis revolusi besar di Perancis yang mempunyai dampak bagi perkembangan sejarah dunia. Pertama, revolusi di bidang politik tatkala penjara Bastille diserbu rakyat dan hal ini mengawali tumbuhnya demokrasi di Eropa. Kedua, revolusi di bidang ilmu tatkala Antoine Laurent Lavoisier (1743-1794) menerbitkan bukunya, Traite Elementaire de Chimie, hal ini mengawali tumbuhnya kimia modern. Dalam bukunya Lavoisier mengembangkan hukum kekekalan massa. Penemuan unsur kimia memiliki sejarah yang panjang yang mencapai puncaknya dengan diciptakannya tabel periodik unsur kimia oleh Dmitri Mendeleyev pada tahun 1869.
*      Kimia organik (kimia yang datang dari senyawa hidup) adalah defenisi pada tahun 1850 kemudian tahun 1900 menjadi kimia senyawa karbon, namun defenisi ini tidak lama karena senyawa seperti CO2, CNO3, KCO3, dianggap anorganik. Alasan utama mengapa dianggap senyawa karbon karena atom C dapat berikkat secara kovalen dengan berbagai macam bentuk dan cara. Kepercayaan tentang daya hidup atau vital force juga telah menjadikan defenisinya berubah karena sifat-sifat dan struktur organik berbeda dengan anorganik dimana organik mempunyai daya hidup. Kimia organik sebagai suatu ilmu secara umum disetujui telah dimulai pada tahun 1828 dengan sintesis urea organik oleh Friedrich Woehler, yang secara tidak sengaja menguapkan larutan Amonium Sianat (NH4OCN). Kimia organik sebagai suatu ilmu secara umum disetujui telah dimulai pada tahun 1828 dengan sintesis urea organik oleh Friedrich Woehler, yang secara tidak sengaja menguapkan larutan Amonium Sianat (NH4OCN). Kimia organik juga banyak menghasilkan bahan sintesis dimana kualitasnya lebih baik dengan biaya produksi yang rendah dan dapat diproduksi dengan cepat serta dapat menghemat bahan baku yang tersedia di alam.




DAFTAR PUSTAKA

Fessenden & Fessenden . 1982. Kimia Organik Edisi Ketiga Jilid I. Jakarta : Erlangga
Respati . 1980. Pengantar Kimia Organik Jilid I. Yogyakarta : Radar Jaya Offset
Widiyati, Erni 2007. Bahan Ajar Kimia Organik I. Bengkulu : FMIPA UNIB

SEM DAN TEM
SEM (SCANING ELECTRON MICROSCOPE) DAN TEM (TRANMISSION ELECTRON MICROSCOPE)
PENDAHULUAN
Berbicara tentang teknologi nano, maka tidak akan bisa lepas dari mikroskop, yaitu alat pembesar untuk melihat struktur benda kecil tersebut. (Teknologi nano : teknologi yang berbasis pada struktur benda berukuran nano meter. Satu nano meter = sepermilyar meter). Tentu yang dimaksud di sini bukanlah mikroskop biasa, tetapi mikroskop yang mempunyai tingkat ketelitian (resolusi) tinggi untuk melihat struktur berukuran nano meter.
Kata mikroskop (microscope) berasal dari bahasa Yunani, yaitu kata micron=kecil dan scopos=tujuan, yang maksudnya adalah alat yang digunakan untuk melihat obyek yang terlalu kecil untuk dilihat oleh mata telanjang. Dalam sejarah, yang dikenal sebagai pembuat mikroskop pertama kali adalah 2 ilmuwan Jerman, yaitu Hans Janssen dan Zacharias Janssen (ayah-anak) pada tahun 1590. Temuan mikroskop saat itu mendorong ilmuan lain, seperti Galileo Galilei (Italia), untuk membuat alat yang sama. Galileo menyelesaikan pembuatan mikroskop pada tahun 1609, dan mikroskop yang dibuatnya dikenal dengan nama mikroskop Galileo. Mikroskop jenis ini menggunakan lensa optik, sehingga disebut mikroskop optik. Mikroskop yang dirakit dari lensa optic memiliki kemampuan terbatas dalam memperbesar ukuran obyek. Hal ini disebabkan oleh limit difraksi cahaya yang ditentukan oleh panjang gelombang cahaya. Secara teoritis, panjang gelombang cahaya ini hanya sampai sekitar 200 nanometer. Untuk itu, mikroskop berbasis lensa optik ini tidak bisa mengamati ukuran di bawah 200 nanometer.
Untuk melihat benda berukuran di bawah 200 nanometer, diperlukan mikroskop dengan panjang gelombang pendek. Dari ide inilah, di tahun 1932 lahir mikroskop elektron. Sebagaimana namanya, mikroskop elektron menggunakan sinar elektron yang panjang gelombangnya lebih pendek dari cahaya. Karena itu, mikroskop elektron mempunyai kemampuan pembesaran obyek (resolusi) yang lebih tinggi dibanding mikroskop optik. Sebenarnya, dalam fungsi pembesaran obyek, mikroskop elektron juga menggunakan lensa, namun bukan berasal dari jenis gelas sebagaimana pada mikroskop optik, tetapi dari jenis magnet. Sifat medan magnet ini bisa mengontrol dan mempengaruhi elektron yang melaluinya, sehingga bisa berfungsi menggantikan sifat lensa pada mikroskop optik. Kekhususan lain dari mikroskop elektron ini adalah pengamatan obyek dalam kondisi hampa udara (vacuum). Hal ini dilakukan karena sinar elektron akan terhambat alirannya bila menumbuk molekul-molekul yang ada di udara normal. Dengan membuat ruang pengamatan obyek berkondisi vacuum, tumbukan elektron-molekul bisa terhindarkan.
Ada 2 jenis mikroskop elektron yang biasa digunakan, yaitu tunneling electron microscopy (TEM) dan scanning electron microscopy (SEM). TEM dikembangkan pertama kali oleh Ernst Ruska dan Max Knoll, 2 peneliti dari Jerman pada tahun 1932. Saat itu, Ernst Ruska masih sebagai seorang mahasiswa doktor dan Max Knoll adalah dosen pembimbingnya. Karena hasil penemuan yang mengejutkan dunia tersebut, Ernst Ruska mendapat penghargaan Nobel Fisika pada tahun 1986. Sebagaimana namanya, TEM bekerja dengan prinsip menembakkan elektron ke lapisan tipis sampel, yang selanjutnya informasi tentang komposisi struktur dalam sample tersebut dapat terdeteksi dari analisis sifat tumbukan, pantulan maupun fase sinar elektron yang menembus lapisan tipis tersebut. Dari sifat pantulan sinar elektron tersebut juga bisa diketahui struktur kristal maupun arah dari struktur kristal tersebut. Bahkan dari analisa lebih detail, bisa diketahui deretan struktur atom dan ada tidaknya cacat (defect) pada struktur tersebut. Hanya perlu diketahui, untuk observasi TEM ini, sample perlu ditipiskan sampai ketebalan lebih tipis dari 100 nanometer. Dan ini bukanlah pekerjaan yang mudah, perlu keahlian dan alat secara khusus. Obyek yang tidak bisa ditipiskan sampai order tersebut sulit diproses oleh TEM ini. Dalam pembuatan divais elektronika, TEM sering digunakan untuk mengamati penampang/irisan divais, berikut sifat kristal yang ada pada divais tersebut. Dalam kondisi lain, TEM juga digunakan untuk mengamati irisan permukaan dari sebuah divais.
Tidak jauh dari lahirnya TEM, SEM dikembangkan pertama kali tahun 1938 oleh Manfred von Ardenne (ilmuwan Jerman). Konsep dasar dari SEM ini sebenarnya disampaikan oleh Max Knoll (penemu TEM) pada tahun 1935. SEM bekerja berdasarkan prinsip scan sinar elektron pada permukaan sampel, yang selanjutnya informasi yang didapatkan diubah menjadi gambar. Imajinasi mudahnya gambar yang didapat mirip sebagaimana gambar pada televisi.
Cara terbentuknya gambar pada SEM berbeda dengan apa yang terjadi pada mikroskop optic dan TEM. Pada SEM, gambar dibuat berdasarkan deteksi elektron baru (elektron sekunder) atau elektron pantul yang muncul dari permukaan sampel ketika permukaan sampel tersebut discan dengan sinar elektron. Elektron sekunder atau elektron pantul yang terdeteksi selanjutnya diperkuat sinyalnya, kemudian besar amplitudonya ditampilkan dalam gradasi gelap-terang pada layar monitor CRT (cathode ray tube). Di layar CRT inilah gambar struktur obyek yang sudah diperbesar bisa dilihat. Pada proses operasinya, SEM tidak memerlukan sampel yang ditipiskan, sehingga bisa digunakan untuk melihat obyek dari sudut pandang 3 dimensi.
Demikian, SEM mempunyai resolusi tinggi dan familiar untuk mengamati obyek benda berukuran nano meter. Meskipun demikian, resolusi tinggi tersebut didapatkan untuk scan dalam arah horizontal, sedangkan scan secara vertikal (tinggi rendahnya struktur) resolusinya rendah. Ini merupakan kelemahan SEM yang belum diketahui pemecahannya. Namun demikian, sejak sekitar tahun 1970-an, telah dikembangkan mikroskop baru yang mempunyai resolusi tinggi baik secara horizontal maupun secara vertikal, yang dikenal dengan “scanning probe microscopy (SPM)”. SPM mempunyai prinsip kerja yang berbeda dari SEM maupun TEM dan merupakan generasi baru dari tipe mikroskop scan. Mikroskop yang sekarang dikenal mempunyai tipe ini adalahscanning tunneling microscope (STM), atomic force microscope (AFM) dan scanning near-field optical microscope (SNOM). Mikroskop tipe ini banyak digunakan dalam riset teknologi nano. Detail tentang mikroskop ini akan dipaparkan di tulisan kedua.





PEMBAHASAN
A. SEM (SCANING ELECTRON MICROSCOPE)
1. PENGERTIAN SEM
SEM atau Scanning Electron Microscope adalah sebuah mikroskop yang menggunakan electron sebagai pengganti cahaya untuk bentuk gambar.
SEM dikembangkan pertama kali tahun 1938 oleh Manfred von Ardenne (ilmuwan Jerman). Konsep dasar dari SEM ini sebenarnya disampaikan oleh Max Knoll (penemu TEM) pada tahun 1935. Tetapi sebenarnya tidak diketahui secara persis siapa sebenarnya penemu Mikroskop pemindai elektron (Scanning Electron Microscope-SEM) ini. dR. Max Knoll pada 1935 melakukan Publikasi pertama kali yang mendiskripsikan teori SEM. Meskipun fisikawan Jerman lainnya Dr. Manfred von Ardenne mengklaim dirinya telah melakukan penelitian suatu fenomena yang kemudian disebut SEM hingga tahun 1937. Mungkin karena itu, tidak satu pun dari keduanya mendapatkan hadiah nobel untuk penemuan itu.
Pada 1942 tiga orang ilmuwan Amerika yaitu Dr. Vladimir Kosma Zworykin, Dr. James Hillier, dan Dr. Snijder, benar-benar membangun sebuah mikroskop elektron metode pemindaian (SEM) dengan resolusi hingga 50 nm atau magnifikasi 8.000 kali. Sebagai perbandingan SEM modern sekarang ini mempunyai resolusi hingga 1 nm atau pembesaran 400.000 kali. Mikroskop elektron cara ini memfokuskan sinar elektron (electron beam) di permukaan obyek dan mengambil gambarnya dengan mendeteksi elektron yang muncul dari permukaan obyek.
2. CARA KERJA
Cara terbentuknya gambar pada SEM yaitu gambar dibuat berdasarkan deteksi elektron baru (elektron sekunder) atau elektron pantul yang muncul dari permukaan sampel ketika permukaan sampel tersebut dipindai dengan sinar elektron. Elektron sekunder atau elektron pantul yang terdeteksi selanjutnya diperkuat sinyalnya, kemudian besar amplitudonya ditampilkan dalam gradasi gelap-terang pada layar monitor CRT (cathode ray tube). Di layar CRT inilah gambar struktur obyek yang sudah diperbesar bisa dilihat. Pada proses operasinya, SEM tidak memerlukan sampel yang ditipiskan, sehingga bisa digunakan untuk melihat obyek dari sudut pandang 3 dimensi.





Suatu berkas elektron diproduksi di bagian atas dari mikroskop oleh elektron Pistol berkas elektron mengikuti jalur vertikal melalui mikroskop, yang diadakan dalam ruang hampa.Balok perjalanan elektromagnetik melalui ladang dan lensa, fokus balok turun menuju sampel Setelah balok hits sampel, elektron dan sinar-X yang dikeluarkan dari sampel.





Mengumpulkan detektor X-ray, backscattered elektron, dan elektron sekunder dan mengkonversikannya menjadi sebuah sinyal yang dikirimkan ke layar mirip dengan layar televisi. Ini menghasilkan finalimage tersebut.
3. PREPARASI SEDIAAN
Agar pengamat dapat mengamati preparat dengan baik, diperlukan persiapan sediaan dengan tahap sebagai berikut :
1. Melakukan fiksasi, yang bertujuan untuk mematikan sel tanpa mengubah struktur sel yang akan diamati. fiksasi dapat dilakukan dengan menggunakan senyawa glutaraldehida atau osmium tetroksida.
2. Dehidrasi, yang bertujuan untuk memperendah kadar air dalam sayatan sehingga tidak mengganggu proses pengamatan.
3. Pelapisan/pewarnaan, bertujuan untuk memperbesar kontras antara preparat yang akan diamati dengan lingkungan sekitarnya. Pelapisan/pewarnaan dapat menggunakan logam mulia seperti emas dan platina.
4. PEMINDAIAN SEM
Pemindaian mikroskop elektron digunakan untuk memeriksa topografi dari spesimen pada sangat perbesaran tinggi menggunakan sebuah peralatan yang disebut mikroskop elektron scanning. perbesaran SEM bisa pergi ke lebih dari 300.000 X tapi manufaktur semikonduktor aplikasi yang paling membutuhkan perbesaran kurang dari 3.000 X saja. SEM inspeksi sering digunakan dalam analisis mati / retak paket dan permukaan fraktur, kegagalan obligasi, dan cacat fisik pada permukaan atau paket mati.

Selama pemeriksaan SEM, sinar elektron difokuskan pada volume tempat spesimen, sehingga transfer energi di tempat. Membombardir elektron ini, juga disebut sebagai elektron primer, mengusir elektron dari spesimen itu sendiri. Elektron lepas, juga dikenal sebagai elektron sekunder, tertarik dan dikumpulkan oleh grid bias positif atau detektor, dan kemudian diterjemahkan ke dalam sinyal.

Untuk menghasilkan gambar SEM, berkas elektron menyapu daerah yang sedang diperiksa, menghasilkan sinyal seperti itu. Sinyal-sinyal ini kemudian diperkuat, dianalisis, dan diterjemahkan ke dalam gambar topografi yang sedang diperiksa. Akhirnya, gambar akan ditampilkan pada sebuah CRT.

Energi elektron primer menentukan jumlah elektron sekunder yang dikumpulkan selama inspeksi. Emisi elektron sekunder dari spesimen meningkat sebagai energi meningkat berkas elektron primer, sampai batas tertentu tercapai. Di luar batas ini, elektron sekunder dikumpulkan sebagai energi berkurang dari berkas primer meningkat, karena balok induk sudah mengaktifkan elektron dalam di bawah permukaan spesimen. Elektron datang dari kedalaman seperti biasanya bergabung kembali sebelum mencapai permukaan untuk emisi.

Selain dari elektron sekunder, berkas elektron primer hasil emisi backscattered (atau tercermin) elektron dari spesimen. Backscattered elektron memiliki energi lebih dari elektron sekunder, dan memiliki arah yang jelas. Dengan demikian, mereka tidak dapat dikumpulkan oleh detektor elektron sekunder, kecuali detektor langsung dalam jalur perjalanan mereka. Semua emisi di atas 50 eV dianggap elektron backscattered.








Gambar. Contoh foto SEM dari area yang terkontaminasi pada sebuah leadframe; EDX analisis biasanya dilakukan untuk mengidentifikasi kontaminan seperti

Imaging elektron Backscattered berguna dalam membedakan satu bahan dari yang lain, karena hasil dari elektron meningkat backscattered dikumpulkan monotonik dengan yang nomor atom spesimen. pencitraan Backscatter dapat membedakan perbedaan unsur dengan nomor atom sekurang-kurangnya 3, yaitu bahan dengan perbedaan nomor atom sekurang-kurangnya 3 akan muncul dengan kontras yang baik pada gambar. Sebagai contoh, memeriksa sisa Au pada obligasi pad Al setelah perusahaan Au obligasi telah terangkat dari bola akan lebih mudah menggunakan pencitraan Backscatter, sejak pulau Au akan berdiri keluar dari latar belakang Al.

Sebuah SEM dapat dilengkapi dengan analisis EDX sistem untuk memungkinkannya untuk melakukan analisis komposisi pada spesimen analisis. EDX berguna dalam mengidentifikasi bahan dan kotoran, serta relatif mereka mengestimasi konsentrasi pada permukaan spesimen.

B. TEM (TRANSMISSION ELECTRON MICROSCOPE)
1. PENGERTIAN TEM
TEM adalah salah satu jenis mikroskop yang memanfaatkan adanya penemuan electron. Sesuai dengan namanya, mikroskop ini memanfaatkan electron dengan cara mentransmisikan electron sehinggan nantinya akan ditangkap oleh sebuah layar yang akan menghasilkan gambar dari struktur material tersebut. Secara mudahnya, TEM cara kerjanya mirip dengan cara kerja dari sebuah slide proyektor
Seorang ilmuwan dari universitas Berlin yaitu Dr. Ernst Ruska menggabungkan penemuan ini dan membangun mikroskop transmisi elektron (TEM) yang pertama pada tahun 1931. Untuk hasil karyanya ini maka dunia ilmu pengetahuan menganugerahinya hadiah Penghargaan Nobel dalam fisika pada tahun 1986. Mikroskop yang pertama kali diciptakannya adalah dengan menggunakan dua lensa medan magnet, namun tiga tahun kemudian ia menyempurnakan karyanya tersebut dengan menambahkan lensa ketiga dan mendemonstrasikan kinerjanya yang menghasilkan resolusi hingga 100 nanometer (nm) (dua kali lebih baik dari mikroskop cahaya pada masa itu).
Dengan TEM, maka gambar yang kita hasilkan akan memiliki tingkat resolusi yang jauh lebih tinggi daripada mikroskop cahaya. Kita dapat melihat sesuatu yang memiliki ukuran 10.000 kali lebih kecil daripada ukuran objek terkecil yang bisa terlihat di mikroskop cahaya.

Pada perbesaran kecil, gambar TEM akan kontras karena absorbsi elektron pada material akibat dari ketebalan dan komposisi material. Pada perbesaran tinggi, maka gambar yang dihasilkana akan menampilkan data yang lebih jelas pada analisa struktur kristal, dan lainnya.
2. PRINSIP DASAR
Transmisi elektron mikroskop (TEM) beroperasi pada prinsip-prinsip dasar yang sama dengan mikroskop cahaya tetapi menggunakan cahaya bukan elektron. Apa yang dapat Anda lihat dengan mikroskop cahaya dibatasi oleh panjang gelombang cahaya menggunakan elektron TEMs. Sebagai "sumber cahaya" dan panjang gelombang yang lebih rendah mereka banyak memungkinkan untuk mendapatkan resolusi seribu kali lebih baik dibandingkan dengan mikroskop cahaya.
Anda dapat melihat benda-benda untuk urutan dari beberapa angstrom (10 -10 m). Sebagai contoh, Anda dapat mempelajari rincian kecil dalam sel atau bahan yang berbeda ke tingkat atom dekat. Kemungkinan untuk perbesaran tinggi telah membuat TEM alat yang berharga di kedua medis, biologi dan penelitian bahan.
Lensa Magnetik Panduan Elektron

Sebuah sumber cahaya di bagian atas mikroskop memancarkan elektron yang berjalan melalui vakum pada kolom mikroskop. Alih-alih fokus lensa kaca lampu dalam mikroskop cahaya, TEM elektromagnetik menggunakan lensa untuk memfokuskan elektron menjadi balok sangat tipis. Berkas elektron kemudian perjalanan melalui spesimen yang ingin Anda pelajari. Tergantung pada kerapatan materi sekarang, beberapa elektron tersebar dan menghilang dari balok dengan. Di bawah mikroskop elektron hit unscattered neon layar, yang menimbulkan bayangan "gambar" dari spesimen yang berbeda bagian ditampilkan dalam kegelapan bervariasi menurut kepadatan mereka. Gambar dapat dipelajari secara langsung oleh operator atau difoto dengan kamera.









3. CARA KERJA
Mikroskop transmisi eletron saat ini telah mengalami peningkatan kinerja hingga mampu menghasilkan resolusi hingga 0,1 nm (atau 1 angstrom) atau sama dengan pembesaran sampai satu juta kali. Meskipun banyak bidang-bidang ilmu pengetahuan yang berkembang pesat dengan bantuan mikroskop transmisi elektron ini.
Adanya persyaratan bahwa “obyek pengamatan harus setipis mungkin” ini kembali membuat sebagian peneliti tidak terpuaskan, terutama yang memiliki obyek yang tidak dapat dengan serta merta dipertipis. Karena itu pengembangan metode baru mikroskop elektron terus dilakukan.
Prinsip kerja dari TEM secara singkat adalah sinar elektron mengiluminasi spesimen dan menghasilkan sebuah gambar diatas layar pospor. Gambar dilihat sebagai sebuah proyeksi dari spesimen. Skema dari TEM lebih detil dapat dilihat pada gambar berikut ini.







(sumber: hk-phy.org)
Sedangkan sinyal utama yang dapat dihasilkan oleh TEM dideskripsikan pada gambar berikut.







Sinyal utama yang dapat ditangkap atau dihasilkan dari TEM cukup banyak antara lain:
a) Diffraction Contrast, dipakai untuk mengkarakterisasi kristal biasa digunakan untuk menganalisa defek, endapan, ukuran butiran dan distribusinya.
b) Phase Contrast Dipakai untuk menganalisa kristalin material (defek, endapan, struktur interfasa, pertumbuhan kristal)
c) Mass/Thickness Contrast,dipakai untuk karakterisasi bahan amorf berpori, polimer, material lunak (biologis)
d) Electron Diffraction
e) Characteristic X-ray (EDS)
f) Electron Energy Loss Spectroscopy (EELS + EFTEM)
g) Scanning Transmission Electron Microscopy (STEM )
4. PREPARASI SAMPEL
Agar pengamat dapat mengamati preparat dengan baik, diperlukan persiapan sediaan dengan tahap sebagai berikut :
1. melakukan fiksasi, bertujuan untuk mematikan sel tanpa mengubah struktur sel yang akan diamati. fiksasi dapat dilakukan dengan menggunakan senyawa glutaraldehida atau osmium tetroksida.

2. pembuatan sayatan, bertujuan untuk memotong sayatan hingga setipis mungkin agar mudah diamati di bawah mikroskop. Preparat dilapisi dengan monomer resin melalui proses pemanasan, kemudian dilanjutkan dengan pemotongan menggunakan mikrotom. Umumnya mata pisau mikrotom terbuat dari berlian karena berlian tersusun dari atom karbon yang padat. Oleh karena itu, sayatan yang terbentuk lebih rapi. Sayatan yang telah terbentuk diletakkan di atas cincin berpetak untuk diamati.
3. pelapisan/pewarnaan, bertujuan untuk memperbesar kontras antara preparat yang akan diamati dengan lingkungan sekitarnya. Pelapisan/pewarnaan dapat menggunakan logam berat seperti uranium dan timbal.

C. PERBEDAAN SEM DAN TEM
Perbedaan mendasar dari TEM dan SEM adalah pada cara bagaimana elektron yang ditembakkan oleh pistol elektron mengenai sampel. Pada TEM, sampel yang disiapkan sangat tipis sehingga elektron dapat menembusnya kemudian hasil dari tembusan elektron tersebut yang diolah menjadi gambar. Sedangkan pada SEM sampel tidak ditembus oleh elektron sehingga hanya pendaran hasil dari tumbukan elektron dengan sampel yang ditangkap oleh detektor dan diolah. Skema perbandingan kedua alat ini disajikan oleh gambar dibawah ini.







Mikroskop elektron transmisi digunakan untuk menandai mikrostruktur bahan dengan resolusi spasial sangat tinggi. Informasi tentang morfologi, struktur dan cacat kristal, fasa kristal dan komposisi, dan mikrostruktur magnet dapat diperoleh oleh kombinasi elektron-optical imaging (titik 2.5A resolusi), difraksi elektron, dan kemampuan probe kecil. Trade-off untuk ini beragam informasi struktural dan resolusi tinggi adalah tantangan untuk memproduksi sampel yang sangat tipis untuk transmisi elektron.
Bagian-bagian TEM, berikut ini adalah bagian-bagian dari TEM :
a) Virtual Source di bagian atas mewakili senapan elektron, menghasilkan elektron monokromatik.
b) Aliran electron difokuskan pada berkas yang kecil, tipis, koheren dengan menggunakan lensa kondensor 1 dan 2. Lensa 1 (biasanya dikontrol oleh tombol "spot size”) sangat menentukan ukuran dari besarnya aliran mengenai sampel. Lensa kedua (biasanya dikontrol tombol “intensitas/brightness”) sebenarnya mengubah ukuran spot pada sampel; mengubahnya dari tersebar luas tempat untuk sebuah balok menentukan.
c) Berkas dibatasi oleh aperture dari kondensor (biasanya dapat dipilih pengguna), merobohkan sudut tinggi elektron (yang jauh dari sumbu optik, garis putus-putus di tengah-tengah)
d) Berkas elektron menumbuk specimen. Lalu, bagian-bagiannya ditransmisikan.
e) Bagian yang ditransmisikan difokuskan oleh lensa objektif menjadi sebuah gambar.
f) Tujuan dan pilihan opsional logam Area apertur dapat membatasi sinar; Objective aperture meningkatkan kontras dengan menghalangi difraksi electron yang high angle, yang dipilih apertur memungkinkan pengguna untuk secara berkala memeriksa difraksi elektron oleh pengaturan memerintahkan atom dalam sampel.
g) Gambar selanjutnya terus melalui intermediate dan lensa proyektor, yang diperbesar sepanjang jalan.
h) Gambar gambar membentur layar fosfor dan cahaya yang dihasilkan, yang memungkinkan pemakai untuk melihat gambar. Daerah yang lebih gelap gambar mewakili wilayah yang oleh sampel yang lebih sedikit elektron yang ditularkan melalui (mereka lebih tebal atau padat). Area yang lebih terang gambar mewakili wilayah yang oleh sampel yang lebih elektron yang ditularkan melalui (mereka lebih tipis atau kurang padat).







KESIMPULAN
1. SEM adalah sebuah mikroskop yang menggunakan electron sebagai pengganti cahaya untuk bentuk gambar.
2. TEM adalah salah satu jenis mikroskop yang memanfaatkan adanya penemuan electron. Sesuai dengan namanya, mikroskop ini memanfaatkan electron dengan cara mentransmisikan electron sehinggan nantinya akan ditangkap oleh sebuah layar yang akan menghasilkan gambar dari struktur material tersebut
3. Perbedaan mendasar dari TEM dan SEM adalah pada cara bagaimana elektron yang ditembakkan oleh pistol elektron mengenai sampel. Pada TEM, sampel yang disiapkan sangat tipis sehingga elektron dapat menembusnya kemudian hasil dari tembusan elektron tersebut yang diolah menjadi gambar. Sedangkan pada SEM sampel tidak ditembus oleh elektron sehingga hanya pendaran hasil dari tumbukan elektron dengan sampel yang ditangkap oleh detektor dan diolah.


PUSTAKA

http://www.blogspot.akirawijayasaputra’sBlog.com
http://www.blogspot.nuraziz’sBlog.com
http://www.matter.org.uk/tem/
http://www.microscopy.ethz.ch/TEM.htm
http://www.nobelprize.org
http://www.saliconfareast.com
http://www.shatomediaonline.com
http://www.wikipediaindonesia.co.id





TUGAS PENGANTAR KETERAMPILAN LABORATORIUM








DISUSUN OLEH :
NAMA/NPM :
1. HENDRA IRAWAN / A1F008007
2. ISABELLA / A1F008008
3. JEMI ANDALA / A1F008009
4. LIZA PUTRI RAHAYU / A1F008011
5. MARDIANA / A1F008012
DOSEN : Dr. KANCONO, M.Si.


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS BENGKULU
2010
1. PERAN LABORATORIUM DALAM PERBAIKAN KEHIDUPAN MASYARAKAT?
Sebelum kita mengetahui peran dari laboratorium maka terlebih dahulu mengetahui apa itu laboratorium. Menurut Procter, 1981. Laboratorium adalah tempat atau ruangan dimana para ilmuwan bekerja dengan peralatan untuk penyelidikan dan pengujian terhadap suatu bahan atau benda. Sedangkan menurut ISO/IEC Guide 2 1986, laboratorium adalah instansi/lembaga yang melaksanakan kalibrasi dan atau pengujian. Sementara Pengujian adalah kegiatan teknis yang terdiri atas penetapan, penentuan satu atau lebih sifat atau karakteristik dari suatu produk, bahan, peralatan, organisme, fenomena fisik, proses atau jasa, sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan. Dari difinisi tersebut maka dalam diskusi ini akan kita fokuskan pada laboratorium menurut definisi-definisi resmi tersebut diatas.
Dengan identitas yang seperti tersebut diatas tidaklah heran maka masyarakat di luar laboratorium benar-benar menganggap bahwa laboratorium adalah suatu tempat bak pengadilan untuk dapat membuktikan apakah sesuatu benar atau tidak, atau menghasilkan data yang pasti benar untuk mengambil keputusan dan seolah tidak dapat diajukan banding lagi. Keadaan ini membawa dampak yang positif maupun negatif. Positif, karena keadaan ini membuat laboratorium dapat bekerja dengan tenang dan penuh dedikasi dengan kepercayaan masyarakat yang tinggi. Negatif, bila keadaan ini membawa dampak laboratorium tidak pernah mendapat keluahan, kritikan dan saran sehingga banyak laboratorium yang tidak dapat menjaga kinerjanya tetap baik. Bahkan beberapa laboratorium atau personil laboratorium menjadi apa yang disebut Pseudoakademik.
Keadaan pandangan masyarakat menjadi berubah manakala laboratorium telah ikut berperan aktif dalam dunia bisnis dan perdagangan barang atau jasa. Sehingga peranan laboratorium pengujian dalam berbagai aspek kehidupan menjadi sangat besar, bahkan perjanjian-perjanjian besar dalam perdagangan dan keputusan-keputusan peraturan terjadi setiap hari berdasarkan data yang dihasilkan oleh laboratorium penguji. Perubahan pandangan masyarakat ini terjadi ketika kesalahan dan ketidak akuratan data hasil uji dapat mengakibatkan kegagalan produksi, mutu produk yang tidak sesuai, membahayakan kesehatan lingkungan dan bahkan kematian. Sebagai contoh hasil pengujian mutu benih yang salah atau tidak akurat dapat mengakibatkan mutu hasil produksi pertanian yang kurang baik atau dapat mengakibatkan gagal panen. Keadaan ini juga membawa dampak para praktisi laboratorium tidak percaya diri.
Akreditasi
Salah satu cara yang disebut sebagai yang paling baik untuk menjamin mutu dan keakuratan data hasil uji dan meningkatkan percaya diri para praktisi laboratorium adalah melalui program akreditasi laboratorium. Akreditasi laboratorium memberikan beberapa jaminan teknik dan kompetensi suatu laboratorium untuk melakukan pengujian suatu produk sesuai dengan standar. ISO (International Organization for Standardisation) mendefinisikan akreditasi sebagai pengakuan formal terhadap suatu laboratorium penguji yang mempunyai kompetensi untuk melakukan pengujian tertentu atau pengujian yang khusus. Dalam hal ini akreditasi laboratorium berarti bahwa laboratorium tersebut mampu dalam melakukan pengujian dengan metode dan prosedur pengujian tertentu dengan benar dan akurat. Sehingga akreditasi memberikan jaminan kemampuan laboratorium hanya pada kemampuan pengujian dalam lingkup yang diakreditasi.
Pengujian dapat dilakukan oleh laboratorium dari berbagai level, ukuran, status,kompetensi laboratorium uji, pemerintah maupun laboratorium swasta. Laboratorium profit maupun non profit (seperti lembaga konsumen ) dan lain-lain. Permasalahan pada akurasi dan variasi suatu hasil pengujian terjadi tidak hanya kesalahan personil laboratorium atau kesalahan peralatan, tetapi dapat juga timbul dari faktor lain, seperti perbedaan atau kesalahan metode atau proses pengambilan contoh. Sehingga cakupan akreditasi adalah manajemen dari ruang lingkup faktor tersebut diatas.
Dua faktor penentu dasar yang penting untuk suatu laboratorium yang diakreditasi adalah kemempuan teknis dan sistem manajemen mutu yang terdokumentasi termasuk keterbukaan yang memberikan kepercayaan dalam kejujuran profesi laboratorium. Persyaratan sebagai laboratorium penguji adalah sesuai dengan pedoman BSN No. 101 atau ISO Guide 25 yang disempurnakan menjadi ISO 17025 atau SNI 17025.
Dalam kerangka Sistem Standardisasi Nasional, akreditasi laboratorium Indonesia dikoordinasikan oleh Komite Akreditasi Nasional (KAN) bertujuan untuk:
1. menyatukan semua sistem akreditasi laboratorium yang ada di Indonesia,
2. memberikan pengakuan resmi kepada laboratorium yang menunjukkan kemampuan dan kewenangan dalam kalibrasi/pengujian tertentu berdasarkan pedoman BSN 101, atau SNI 17025,
3. Mengurangi, dan jika mungkin menghilangkan praktek pengulanganpengujian laboratorium,
4. Meningkatkan status dan standar laboratorium penguji di Indonesia,
5. Mempromosikan penerimaan, baik di Indonesia maupun di luar negeri, pengujian yang dilaksanakan oleh laboratorium yang diakreditasi oleh KAN, dan
6. Meningkatkan mutu, tingkat penerimaan dan reputasi produk buatan Indonesia, baik di pasar dalam negeri maupun luar negeri.
Peranan penting laboratorium uji
a. Sertifikasi mutu hasil uji laboratorium
Sertifikasi hasil uji adalah dokumen yang diterbitkan oleh laboratorium penguji yang telah di akreditasi, yang menyatakan hasil pengujian atas contoh produk yang telah diuji menurut spesifikasi atau metode uji atau standar tertentu. Dalam kerangka penerapan SNI dan sitem pembinaan beberapa komoditi di Indonesia, terdapat beberapa skema penyelenggaran sertifikasi terutama "third party certification" seperti Sertifikasi Mutu, Sertifasi Mutu Ekspor, sertifikasi benih, sertifikasi kesehatan dan lain-lain.
Sistem ini walaupun mulai ditinggalkan dengan berkembangnya sistem jaminan mutu yang mendasarkan kepada manajemen sistem mutu, namun keberadaan dari kegiatan masih sangat besar mengingat :
1. masih besarnya pelaku bisnis kecil yang belum mampu menerapkan sistem mutu,
2. masih terbatasnya kerjasama antar laboratorium penguji antar negara, dan
3. masih terbatasnya kerjasama standardisasi antar negara.
Peranan laboratorium penguji dalam jaringan sertifikasi ini sangat besar, vital dan terus menerus, karena keputusan penerbitan sertfikasi sangat tergantung dari hasil uji laboratorium terhadap setiap partai barang apakah sesuai dengan standar.
b. Sertifikasi sistem mutu
Sertifikat Sistem Mutu adalah dokoumen yang diterbitkan oleh lembaga sertifikasi sistem mutu yang menyatakan bahwa perusahaan atau produsen telah mampu menerapkan sistem mutu di dalam kegiatan organisasinya untuk menghasilkan produk atau jasa tertentu. Sistem-sistem mutu tersebut diantaranya adalah: ISO 9000, Sistem HACCP, ISO 14000 dan lain-lain.
Peranan laboratorium penguji dalam jaringan sertifikasi ini sangat besar dan vital terutama pada perencanaan disain sistem mutu terhadap tahap-tahap produksi serta dalam proses pengendalian secara periodik, karena keputusan dari suatu disain sistem mutu sangat tergantung dari hasil uji laboratorium. Disamping itu kegiatan laboratorium masih diperlukan dalam rangka kegiatan kegiatan monitoring, audit, verifikasi serta penilaian ulang.
c. Sertifikasi produk (penandaan)
Sertifikat perduk adalah dokumen yang diterbitkan oleh lembaga sertifikasi produk atau jasa yang menyatakan bahwa suatu perusahaan atau produsen telah berhak memakai tanda SNI pada produk atau jasa tertentu yang dihasilkan.
Peranan laboratorium penguji dalam tipe jaringan sertifikasi ini sangat besar dan vital, karena keputusan dari penerbitan sertifikasi produk adalah selain hasil inspeksi dari sistem mutu yang dikembangkan juga hasil pengujian terhadap produk yang dihasilkan. Disamping itu kegiatan laboratorium masih diperlukan dalam rangka kegiatan verifikasi, survelence dan penilaian ulang.
d. Sertifikasi Inspeksi
Sertifikat inspeksi adalah dokumen yang diterbitkan oleh lembaga inspeksi yang menyatakan bahwa kinerja/performance suatu produk, atau sistem yang dihasilkan adalah sesuai dengan persyaratan standar.
Peranan laboratorium penguji dalam tipe jaringan sertifikasi ini sangat besar dan vital, karena keputusan dari penerbitan sertifikasi inspeksi adalah selain hasil inspeksi dari produk atau sistem yang dikembangkan juga hasil pengujian terhadap produk yang dihasilkan. Disamping itu kegiatan laboratorium masih diperlukan dalam rangka kegiatan monitoring dan pengawasan.
e. Peran-peran lainnya
Peran-peran lain laboratorium yang tidak kalah pentingnya adalah Peran laboratorium dalam R&D atau penelitian dan pengembangan, dan peran laboratorium dalam investigasi kasus. Hampir tidak ada dari kedua kegiatan tersebut yang tidak membutuhkan laboratorium.
Dari penjabaran tersebut, nampak jelas betapa pentingnya laboratorium dalam berbagai kehidupan terutama dalam bisnis dan perdagangan modern maupun pengambilan keputusan-keputusan penting dalam penyelenggaraan negara. Lebih fokus lagi perannya dalam Pengembanga Sistem jaminan mutu dalam program-program sertifikasi. Maka adalah sangatlah relevan dan menjadi tuntutan bahwa laboratorium penguji sudah harus mulai memperbaiki manajemen melalui akreditasi dan harmonisasi dengan mitrabisnis bila ingin tetap "survive" dalam menghadapi arus globalisasi.




2.KONSTRIBUSI TEKNOLOGI TERHADAP LABORATORIUM?
Sangat banyak kontribusi teknologi terhadap laboratorium, dansebaliknya, banyak sekali koontribusi laboratorium untuk teknologi, jadi keduanya sangat saling berkaitan. Pada zaman dahulu laboratoruim dilengkapi dengan alt-alat yang relative sederhana dengan hasil uji dari laboratorium terkadang perlu adanya perbaikan yang berulang-ulang dengan hasil uji yang masih belum sempurna, baik itu pengujian secara kualitatif maupun secara kuantitatif.
Dengan perkembangan zaman maka berkembangnya teknologi-teknologi canggih yang dapat membantu manusia dalam kehidupanya, tak terlepas juga laboratorium dengan teknologi-teknologi yang canggih sehingga hasil dari penelitian didapat secara cepat dan akurat. Salah satu contoh, dalam kimia analitik kita menimbang hanya dengan timbangan bandul yang sederhana, tetapi dengan perkembangan teknologi pada zaman sekarang maka digunakan timbangan analitik digital dimana hasil yang didapat lebih akurat, dan masih banyak contoh lainya kontribusi teknologi terhadap laboratorium.
Pada zaman sekarang menganalisis dan mengolah data dari hasil uji laboratorium sangatlah cepat dan keakuratanya hamper didapat 100%. Dengan adanya computer pengolahan data dari uji laboratorium maka akan didapat data yang cepat dan hasil dengan proses yang lebih mudah. Selain itu kontribusi teknologi terhadap laboratorium ialah saat dilakukan pengujian dilakukan dengan waktu yang terkadang lebih cepat, sehingga hal ini menunjukan bahwa teknologi dapat menyingkat waktu dari percobaan tampa menghilangkan proses dari uji itu sendiri.
Selain itu juga perlu adanya konsep untuk bias menerapkan teknologi pada laboratorium, salah satunya pemikiran konsep zero waste. Sebagai contoh dari konsep teknologi ini adalah pendekatan serta penerapan sistem dan teknologi pengolahan sampah perkotaan skala kawasan secara terpadu dengan sasaran untuk melakukan penanganan sampah perkotaan skala kawasan sehingga dapat mengurangi volume sampah sesedikit mungkin, serta terciptanya industri kecil daur ulang yang dikelola oleh masyarakat atau pemerintah daerah setempat.
Konsep zero waste yaitu penerapan rinsip 3R (Reduce, Reuse, dan recycle), serta prinsip pengolahan sedekat mungkin dengan sumber sampah dengan maksud untuk mengurangi beban pengangkutan (transport cost). Orientasi penanganan sampah dengan konsep zero waste diantaranya meliputi :
1. Sistem pengolahan sampah secara terpadu
2. Teknologi pengomposan
3. Daur ulang sampah plastik dan kertas
4. Teknologi pembakaran sampah dan insenator
5. Teknologi pengolahan sampah organik menjadi pakan ternak
6. Teknologi tempat pembuangan akhir (TPA) sampah
7. Peran serta masyarakat dalam penanganan sampah
8. Pengolahan sampah kota metropolitan
9. Peluang dan tantangan usaha daur ulang.

Pengertian Zero Waste adalah bahwa mulai dari produksi sampai berakhirnya suatu proses produksi dapat dihindari terjadi “produksi sampah” atau diminimalisir terjadinya “sampah”. Konsep Zero Waste ini salah satunya dengan menerapkan prinsip 3 R (Reduce, Reuse, Recycle).
Produksi bersih merupakan salah satu pendekatan untuk merancang ulang industri yang bertujuan untuk mencari cara-cara pengurangan produk-produk samping yang berbahaya, mengurangi polusi secara keseluruhan, dan menciptakan produk-produk dan limbah-limbahnya yang aman dalam kerangka siklus ekologi. Prinsip ini juga dapat diterapkan pada berbagai aktivitas termasuk juga kegiatan skala rumah tangga.
Prinsip-prinsip yang dapat diterapkan dalam penangan sampah misalnya dengan menerapkan prinsip 3-R, 4-R atau 5-R. Penanganan sampah 3-R adalah konsep penanganan sampah dengan cara reduce (mengurangi), reuse (menggunakan kembali), recycle (mendaur-ulang sampah), sedangkan 4-R ditambah replace (mengganti) mulai dari sumbernya. Prinsip 5-R selain 4 prinsip tersebut di atas ditambah lagi dengan replant (menanam kembali). Penanganan sampah 4-R sangat penting untuk dilaksanakan dalam rangka pengelolaan sampah padat perkotaan yang efisien dan efektif, sehingga diharapkan dapat mengrangi biaya pengelolaan sampah.
Prinsip reduce dilakukan dengan cara sebisa mungkin lakukan minimisasi barang atau material yang kita pergunakan. Semakin banyak kita menggunakan material, semakin banyak sampah yang dihasilkan.
Prinsip reuse dilakukan dengan cara sebisa mungkin pilihlah barang-barang yang bisa dipakai kembali. Hindari pemakaian barang-barang yang sekali pakai. Hal ini dapat memeperpanjang waktu pemakaian barang sebelum ia menjadi sampah.
Prinsip recycle dilakukan dengan cara sebisa mungkin, barang-barang yang sudah tidak berguna lagi, bisa didaur ulang. Tidak semua barang bisa didaur ulang, namun saat ini sudah banyak industri non-formal dan industri rumah tangga yang memanfaatkan sampah menjadi barang lain.
Prinsip replace dilakukan dengan cara teliti barang yang kita pakai sehari-hari. Gantilah barang-barang yang hanya bisa dipakai sekali dengan barang yang lebih tahan lama. Juga teliti agar kita hanya memakai barang-barang yang lebih ramah lingkungan. Misalnya, ganti kantong keresek kita dengan keranjang bila berbelanja, dan jangan pergunakan Styrofoam karena kedua bahan ini tidak bisa diurai secara alami.
Prinsip replant dapat dilakukan dengan cara membuat hijau lingkungan sekitar baik lingkungan rumah, perkantoran, pertokoan, lahan kosong dan lain-lain. Penanaman kembali ini sebagian menggunakan barang atau bahan yang diolah dari sampah.











3. PENANGANAN LIMBAH LABORATORIUM BIOLOGI AGAR RAMAH?LINGKUNGAN?
Kita tahu bahwa manusia tidak lepas dari alam, dimana alam menyedia seluruh kebutuhan kita. Dari hasil pemenuhan manuusia ini banyak menghasilkan sampah/limbah. Salah satunya limbah organic diamana lim;bah ini dapat didaur ulang atau dapat membusuk oleh mikroorganisme atau oleh binatang pembusuk.
Dari hal ini maka kita harus bias menangani limbah/sampah ini supaya menjadi musuh bagi kehidupan kita, tidak terlepas juga dengan limbah/ sampah organic dari laboratorium. Ada beberapa cara penanganan dari Sampah organic laboratorium seperti: Secara fisik berupa pemisahan dan mengkonsentrasikan komponen limbah tanpa mengubah struktur kimia, contoh sedimentasi untuk padatan tersuspensi dan filtrasi.
1. Pengolahan cara kimia didasarkan pada proses pengubahan struktur kimiawi kandungan limbah untuk mengubah limbah.
2. Proses fisik dan kimia sering juga digunakan secara serempak dalam suatu rangkaian pengolahan. Contoh pengolahan kimia digunakan untuk mengendapkan logam berat, digumpalkan dan dikeluarkan dari suspensi menggunakan cara sedimentasi dan filtrasi.
3. Padatan hasil saringan dapat dipadatkan secara fisis-kimia atau dibuang ke landfill, dimaksudkan untuk ;
4. Mengurangi limbah yang akan ditanam (Landfilling),
5. Mengurangi sifat racun limbah.
6. Menghentikan/mencegah pengotoran racun sebelum ditanam,
7. Mempekatkan/mengkonsentrasikan senyawa organik sebelum ke proses pembakaran (incineration),
8. Menghancurkan senyawa beracun dalam limbah.



Teknologi yang digunakan untuk pengolahan fisik kimia, antara lain :
Reduksi kimia.
Pada reduksi kimia ini tahap oksidasi dari kontaminan beracun diubah untuk menurunkan sifat racun kontaminan atau memperbaiki karakteristik limbah untuk diolah.
Oksidasi kimiawi.
Pada proses ini, tahap oksidasi kontaminan limbah diubah untuk mengurangi sifat racunnya secara keseluruhan. Contoh : Cianida dioksidasikan dengan sodium hipochlorid menghasilkan karbon dioksida dan nitrogen sebagai hasil samping yang kemudian dilepaskan ke atmosfir.
Netralisasi danpengendapan.
Netralisasi adalah, pH larutan limbah B3 dinetralkan menggunakan basa. Zat-zat yang terlarut diendapkan/dikeluarkan dari larutan sebagai hidroksida. Proses ini digunakan untuk melepaskan logam berat dari air limbah.
Pemisahan berdasarkan gaya berat.
Pada proses ini gaya berat digunakan untuk memisahkan padatan tersuspensi dari larutan/cairan. Zat padat akan mengendap di dasar tangki pengendapan (sedimentasi) di tempat pengumpulannya.
Solidifikasi.
Limbah B3 yang berbentuk lumpur, sebelum “dikubur”, dipadatkan terlebih dahulu dengan cara :
1. Mencampur limbah B3 dengan bahan semen sehingga terjadi pengerasan. Proses ini disebut juga dengan istilah sementara
2. Mencampur limbah B3 dengan aspal sehingga terjadi pemadatan. Limbah yang dipadatkan ini kemudian dibuang ke TPA “khusus”.
4. PERAN AKTIF LABORATORIUM DALAM PENAGGULANGAN SAMPAH ORGANIK DAN NON ORGANIK?
Laboratorium sangat penting dalam penanggulangan sampah baik itu organic maupun anorganik. Suatu zat atau bahan dari rumah produksi yang berupa limbah harus di uji terhadap lingkungan sekitarnya, jangan sampai limbah yang dihasilkan akan mempengaruhi lingkungan dan dapat merusak lingkungan hidup di lingkungan tersebut. Pencemacaran lingkungan sering terjadi akibat dari limbah ini. Untuk mengetahui bahwa sampah atau limabh yang dihasilkan tidak membahayakan lingkungan inilah peran penting dari laboratorium.
Sebagai contah dari pabrik-pabrik bersar yang menghasilkan limbah organic maupun anorganik harus mempunyai laboratorium, selain untuk menguji dari produk yang diohasilkan, peran laboratorium ini untuk menguji dari limbah yang dibuang.
Kita mengetahui bahwa kita tidak bias lepas dari alam sekitar kita, selain untuk memenuhi kebutuhan kehidupan kita, alam juga berperan sebagai penyeimbangan dari rotasi kehidupan. Untuk menjaga keseimbangan itu sangat perlu kita untuk menjaga alam jangan sampai terkontaminasi atau terkotori oleh limbah. Selain it juga alam menjadi gudangnya ilmu pengetahuan. Buktinya banyak sekali hal yang kita peroleh dari alam untuk kebutuhan manusia. Jadi lumrah saja bila kita menghormati alam. Caranya? Ambil peran aktif untuk melestarikan alam sesuai kehidupan sehari-hari. Peran aktif itu bisa kita tunjukkan pada siapa saja. Selain loboratorium, kita juga menjadi peran penting dengan hal-hal kecil misalnya saja, buang sampah pada tempatnya, hemat air, tak pelihara satwa yang dilindungi dan hemat energi. Tak ketinggalan, ikut aktif di pelbagai perkumpulan pecinta alam sekaligus mengikuti perkembangan masalah konservasi di sekeliling kita. Di Indonesia, ada banyak laboratorium alam yang bisa kita jadikan tempat belajar tentang peran aktif tadi. Bila kita jeli, tempat-tempat ini merupakan representasi dari kebijakan alam mengatur keseimbangan.
Industri primer pengolahan hasil hutan merupakan salah satu penyumbang limbah cair yang berbahaya bagi lingkungan. Bagi industri-industri besar, seperti industri pulp dan kertas, teknologi pengolahan limbah cair yang dihasilkannya mungkin sudah memadai, namun tidak demikian bagi industri kecil atau sedang. Namun demikian, mengingat penting dan besarnya dampak yang ditimbulkan limbah cair bagi lingkungan, penting bagi sektor industri kehutanan untuk memahami dasar-dasar teknologi pengolahan limbah cair.
Teknologi pengolahan air limbah adalah kunci dalam memelihara kelestarian lingkungan. Apapun macam teknologi pengolahan air limbah domestik maupun industri yang dibangun harus dapat dioperasikan dan dipelihara oleh masyarakat setempat. Jadi teknologi pengolahan yang dipilih harus sesuai dengan kemampuan teknologi masyarakat yang bersangkutan.
Berbagai teknik pengolahan air buangan untuk menyisihkan bahan polutannya telah dicoba dan dikembangkan selama ini. Teknik-teknik pengolahan air buangan yang telah dikembangkan tersebut secara umum terbagi menjadi 3 metode pengolahan:
1. pengolahan secara fisika
2. pengolahan secara kimia
3. pengolahan secara biologi
Untuk suatu jenis air buangan tertentu, ketiga metode pengolahan tersebut dapat diaplikasikan secara sendiri-sendiri atau secara kombinasi.
Pengolahan Secara Fisika
Pada umumnya, sebelum dilakukan pengolahan lanjutan terhadap air buangan, diinginkan agar bahan-bahan tersuspensi berukuran besar dan yang mudah mengendap atau bahan-bahan yang terapung disisihkan terlebih dahulu. Penyaringan (screening) merupakan cara yang efisien dan murah untuk menyisihkan bahan tersuspensi yang berukuran besar. Bahan tersuspensi yang mudah mengendap dapat disisihkan secara mudah dengan proses pengendapan. Parameter desain yang utama untuk proses pengendapan ini adalah kecepatan mengendap partikel dan waktu detensi hidrolis di dalam bak pengendap.
Sebagi contoh dari peran laboratorium seperti pengolahan dan pemanfaatan sampah organic menjadi briket arang dan asap cairKeberadaan sampah dari tahun ke tahun menimbulkan masalah berupa pencemaran sertameningkatkan kebutuhan pengadaan TPA. Salah satu alternatif penanganan sampah dari pada dibakar percuma adalah denganpembakaran pirolisis dari sampah organik, walaupun harus dipilah sampah organik yang dapatdipirolisis. Proses ini akan menghasilkan padatan (char) berupa arang dan berupa cairan (tar) yangmemiliki nilai kalor tinggi. (Bramono, 2004). Char dapat diproses lanjut menjadi briket bio arangdan menjadikan energi alternatif selain ikut memberikan kontribusi dalam mengurangi jumlah sampah yang ada.
Pembuatan energi alternatif dalam kondisi energi minyak menipis jumlah cadangannya, serta mahal harganya merupakan langkah terobosan yang bermanfaat, baik dari segi pemanfaatan sampah juga sebagai upaya strategis melatih masyarakat menggunakan energi alternatif. Menurut (Siteur,1996) peningkatan pemakaian energi sejak 1970-an telah menimbulkan krisis energi, hal ini dikarenakan suplai energi yang tidak dapat mengimbangi besarnya kebutuhan energi yang meningkat dari tahun ke tahun. Konsumsi energi pada tahun 1918 sebesar 1.181 PJ, tahun 1986 sebesar 1320 PJ dan tahun 1991 sebesar 1465 PJ. Sedangkan energi yang digunakan adalah sebagai berikut (Supranto,2004):
1. Pemakaian biomassa masih besar diperkirakan sekitar 35 % dari total pemakaian energy nasional.
2. Pemakaian energi primer komersial masih didominasi oleh minyak bumi, sedangkan cadangan minyak bumi semakin terbatas.
Berdasarkan survey yang dilakukan terhadap 11 propinsi pada tahun 1990 pemakaian biomassa di daerah pedesaan adalah :
1. Kayu bakar perkapita 430 kg /tahun.
2. Arang perkapita 9 kg / tahun
3. Sisa pertanian perkapita 175 kg / tahun
Pemakaian energi dari kayu bakar yang selama ini dilakukan, akan berakibat pada penggundulan hutan yang mana ini akan membawa kerusakan hutan (deforestration), hal ini memaksa kita untuk melakukan diversifikasi sumber energi antara lain, memanfaatkan sampah ataupun limbah sebagai sumber energi alternatif. Limbah pada dasarnya berarti suatu bahan yang terbuang, atau sengaja dibuang dari suatu sumber hasil atau aktivitas manusia maupun proses-proses alam dan tidak atau belum mempunyai nilai ekonomi, bahkan dapat mempunyai nilai ekonomi yang negatip, karena diperlukan beaya tambahan untuk pengumpulan ,penanganan dan pembuangannya (Murtadho dan Said 1988). Hal tersebut merupakan pengertian secara umum, sedangkan secara khusus untuk limbah padat disebut dengan sampah, yang memiliki pengertian suatu bahan yang terbuang atau dibuang dari sumber hasil aktivitas manusia maupun proses alam yang belum memiliki nilai ekonomis (Istilah Lingkungan untuk manajemen Ecolink dalam Suprihatin 1999). Berdasar asalnya sampah (padat) dapat digolongkan sebagai (Suprihatin 1999) :
1. Sampah organik yaitu sampah yang terdiri dari bahan –bahan penyusun tumbuhan dan hewan yang diambil dari alam, atau dihasilkan dari kegiatan pertanian, perikanan atau yang lainnya. Sampah ini dengan mudah diuraikan dalam proses alami. Sampah rumah tangga sebagian besar sampah organik, termasuk sampah organik misalnya : sampah dari dapur, sisa tepung, sayuran, kulit buah dan daun.
2. Sampah anorganik yaitu sampah yang berasal dari sumber daya alam tak terbaharui seperti mineral dan minyak bumi atau dari proses industri. Beberapa dari bahan ini tidak terdapat di alam seperti plastik dan aluminium. Sebagian zat anorganik secara keseluruhan tak dapat diuraikan oleh alam, sedang sebagian lainnya hanya dapat diuraikan dalam waktu yang lama. Sampah jenis ini pada tingkat rumah tangga misalnya: botol kaca, botol plastik, tas plastik dan kaleng. (Murtadho dan Said, 1997) mengklasifikasikan sampah organik menjadi 2 (dua) kelompok yaitu :
1. Sampah organik yang mudah membusuk (garbage) yaitu limbah padat semi basah berupa bahan-bahan organik yang berasal dari sektor pertanian dan pangan termasuk dari sampah pasar. Sampah ini mempunyai ciri mudah terurai oleh mikroorganisme dan mudah membusuk, karena mempunyai rantai kimia yang relatif pendek. Sampah ini akan menjijikkan jika sudah membusuk apalagi bila terkena genangan air sehingga masyarakat enggan menanganinya.
2. Sampah organik yang tak mudah membusuk (rubish) yaitu limbah padat organik kering yang sulit terurai oleh mikroorganisme sehingga sulit membusuk. Hal ini karena rantai kimia panjang dan kompleks yang dimilikinya, contoh dari sampah ini adalah kertas dan selulosa.

Faedah dari pengolahan ini adalah dapat membantu mengatasi permasalahan dalam pengolahan sampah khususnya sampah organik, yakni mengurangi jumlah timbunan sampah. Manfaat lain adalah sejalan dengan semakin menipisnya cadangan bahan bakar fosil / minyak bumi, maka diharapkan briket bioarang ini dapat menjadi alternatif bahan bakar bagi masyarakat sekaligus mengurangi konsumsi yang tinggi dari minyak bumi.Membantu masyarakat yang melakukan usaha atau kegiatan pembuatan briket bioarang dari
sampah organik dan menghasilkan asap cair yang diharapkan dapat menggantikan bahan pengawetmakanan yag berbahaya.
Untuk contoh dari peran laboratorium untuk anorganik seperti pada laboratorium suspenti uji asap hasil pembuangan dari kendaraan bermotor. Dengan adanya laboratorium ini maka buangan di uji supaya buangan dari kendaraan bermotor ini tidak membahayakan dari alam kita, sehingga alam kita terjaga akan pemanasan global dimanan salah satu penyebab nya adalah hasil pembuanagn bermotor.
Selain loboratorium yang dibuat khusus, yang paling penting adalah laboratorium alam, dimana alam merupakan komponen yang sanagt penting. Kita ketahui sekarang bahwa adanya istilah hutan adalah paru-paru dunia. Hal ini juga menunjukan bahwa hutan menjadi laboratorium bagi kita.






5. BAGAIMANAKAH KELAK KOMUNITAS HARIMAU DAN GAJAH SUMATRA, DENGAN EKSPLOITASI HUTAN MENJADI PERKEBUNAN (SAMIT, KARET DAN KAKAO)?


Eksistensi manusia sangat tergantung kepada kondisi alam. Peristiwa alam seperti gempa, gunung meletus, banjir dan lain-lain disebabkan karena ketidak-seimbangan alam.
Ada beberapa faktor yang menyebabkan ketidak-seimbangan alam, diantaranya: degradasi hutan, ekploitasi besar-besaran terhadap sumber daya alam, pembakaran hutan, konversi kawasan hutan menjadi perkebunan dan transmigrasi.
Beberapa tahun terakhir ini, wilayah hutan sumatara yang luas telah banyak diubah menjadi perkebunan kelapa sawit. Dari sebanyak 3.305 spesies amfibi, burung, mamalia, dan reptil yang diketahui di Indonesia, sebesar 31,1 persen masih ada dan 9,9 persen terancam. Indonesia merupakan rumah bagi setidaknya 29.375 spesies tumbuhan vaskular, yang 59,6 persennya masih ada. (Rhett Butler, 2008)
Merusak alam berarti merusak kehidupan manusia di bumi ini dan juga memusnahkan keberadaan makhluk hidup lainnya di bumi ini. Hutan, sungai, laut dan semua kekayaan bumi yang terkandung di dalam perutnya merupakan bagian dari alam tersebut, yang jika tidak seimbang akan memunculkan respon yang negatif seperti bencana alam, yang kemudian akan menggoncang eksistensi kehidupan manusia dan seluruh makhluk hidup yang hidup di bumi ini.
Disamping itu, eksploitasi dan eksplorasi semakin meningkat. Ironisnya, peningkatan pertumbuhan perusahaan pertambangan tidak berbanding sejajar dengan kelestarian alam, justru yang terjadi malah sebaliknya. Menurut Rhett Butler (2008), jumlah hutan-hutan di Indonesia sekarang ini makin turun dan banyak dihancurkan berkat penebangan hutan, penambangan, perkebunan agrikultur dalam skala besar, kolonisasi, dan aktivitas lain yang substansial, seperti memindahkan pertanian dan menebang kayu untuk bahan bakar. Luas hutan hujan semakin menurun. Hutan makin terdegradasi, sungai makin tercemari dan kekayaan alam semakin dieksploitasi secara besar-besaran. Selain itu, kerusakan alam dan hutan juga merampas kehidupan komunitas melayu maupun komunitas suku penghulu atau masyarakat lokal yang hidup disepanjang sungai-sungai besar di Jambi, baik yang disebabkan oleh semakin terbukanya kawasan hutan, semakin tercemarnya sungai maupun semakin sempitnya lahan pertanian karena pemberian HPH oleh pemerintah kepada perusahaan-perusahaan HTI dan APL (perkebunan dan pertambangan), dimana masyarakat lokal tersebut masih sangat tergantung pada aliran air sungai (DAS) untuk kebutuhan harian, seperti: mencuci, mandi dan minum. Juga masih sangat tergantung dengan perkebunan dan pertanian, dimana sumber pendapatannya masih bergantung pada perkebunan karet dan hasil hutan non kayu lainnya.

HARIMAU Sumatera (Panthera Tigris Sumatrae) dikagumi sekaligus ditakuti sebagai lambang kekuatan dan kebuasan alam. Gerakannya gesit, lentur, kuat, dan anggun. Harimau Sumatera terancam akibat kerusakan habitat dan perburuan liar untuk mengambil kulit lorengnya, serta mengambil bagian tubuhnya untuk pengobatan tradisional.
Harimau Sumatera (Panthera Tigris Sumatraensis) merupakan satu-satunya dari subspesies Harimau yang masih tersisa di Indonesia. Keberadaannya hingga saat ini semakin mengkhawatirkan. Kehilangan habitat dan mangsa (Bovidae dan Cervidae) menyebabkan satwa yang hidup di pulau sumatera ini semakin terancam keberadaannya. (Seidenstiker,1999).
Status:
1.Terancam Kritis/Critically Endangered (IUCN Red List)
2. Dilindungi UU RI No 5 Tahun 1990 mengenai Konservasi Sumberdaya Alam Hayati
3. Jumlah: 400-500 ekor di alam bebas, 232 ekor di penangkaran/kebun binatang
Habitat:
Harimau Sumatera hidup di hutan tropis dataran rendah hingga pegunungan, rawarawa bakau, dan semak-semak. Hanya hidup di Sumatera dan tersebar di sembilan dari sebelas Taman Nasional di Sumatera.
Habitat harimau terancam oleh perambahan hutan dan perluasan perkebunan kelapa sawit. Harimau betina dapat menjelajahi kawasan seluas 20 km persegi, sedangkan harimau jantan sekitar 60-100 km persegi. Harimau Sumatera, seperti halnya dengan jenis-jenis harimau lainnya, adalah jenis satwa yang mudah beradaptasi dengan kondisi lingkungan tempat tinggalnya di alam bebas.
Kondisi mutlak yang mempengaruhi pemilihan habitat seekor harimau adalah :
1. Adanya habitat dengan kwalitas yang baik termasuk vegetasi cover sebagai tempat berteduh dan beristirahat agar bisa terlindung dari dari panas dan sebagai tempat untuk membesarkan anak serta berburu.
2. Terdapat sumber air, karena satwa ini hidupnya sangat tergantung pada air untuk minum, mandi, dan berenang
3. Tersedianya mangsa dalam jumlah yang cukup.
Tipe lokasi yang biasanya menjadi pilihan habitat Harimau Sumatera di Indonesia bervariasi, dengan ketinggian antara 0 – 3000 meter dari permukaan laut, seperti :
1. Hutan hujan tropik, hutan primer dan sekunder pada dataran rendah sampai dataran tinggi pegunungan, hutan savana, hutan terbuka, hutan pantai, dan hutan bekas tebangan
2. Pantai berlumpur, mangrove, pantai berawa payau, dan pantai air tawar
3. Padang rumput terutama padang alang-alang
4. Daerah datar sepanjang aliran sungai, khususnya pada sungai yang mengalir melalui tanah yang ditutupi oleh hutan hujan tropis
5. Juga sering terlihat di daerah perkebunan dan tanah pertanian
6. Selain itu juga banyak harimau ditemui di areal hiutan gambut.

Masa hidup seekor harimau adalah sekitar 10 – 15 tahun. Harimau yang tinggal di penangkaran umumnya lebih lama lagi, dapat mencapai 16 – 25 tahun (Macdonald, 1986).
Populasi Harimau Sumatera
Populasi Harimau Sumatera (Panthera Tigris Sumatraensis) di habitat alaminya secara menyeluruh belum diketahui secara tepat, namun dapat dipastikan bahwa populasinya saat ini sudah dalam kondisi sangat kritis. Menurunya populasi harimau Sumatera di alam disebabkan oleh banyak faktor yang saling mempengaruhi dan terjadi secara simultan. Faktor penyebab tersebut diantaranya, adalah:
1. Informasi dan pengetahuan di bidang bio-ekologi harimau Sumatera masih terbatas.
2. Menurunnya kwalitas dan kwantitas habitat harimau Sumatera akibat konversi vegetasi hutan alam menjadi tanaman monokultur, pembukaan hutan, eksploitasi hutan, penebangan liar, perambahan hutan, kebakaran hutan dan Degradasi Habitat, tempat berlindung dan membesarkan anak menjadi hilang.
3. Fragmentasi Habitat akibat rendahnya unsur management pengelola konservasi harimau Sumatera, Perencanaan Tata Guna Lahan dan penggunaan lahan dan hutan yang kurang memperhatikan aspek-aspek konservasi satwa liar khususnya harimau Sumatera. Menurunnya kwantitas, kwalitas dan daya dukung habitat terhadap harimau Sumatera. Teritorial harimau Sumatera menjadi berubah. Keadaan tersebut telah menekan harimau Sumatera untuk mencari teritorial baru dan masuk ke pemukiman untuk mencari mangsa, sehingga telah menyebabkan konflik antara harimau dengan manusia.
4. Kematian harimau Sumatera secara langsung sebagai akibat dari perburuan untuk kepentingan ekonomi, estetika, pengobatan tradisional, magis, olahraga dan hobby serta mempertahankan diri karena terjadinya konflik antara harimau dengan masyarakat.
5. Menurunya populasi satwa mangsa harimau seperti rusa, babi hutan, kera dll oleh karena beralih tempat, mengungsi ke tempat yang lebih baik dan karena mati. maupun diburu oleh masyarakat.
6. Penangkapan dan pemindahan harimau Sumatera dari habitat alami ke lembaga konservasi eksitu karena adanya konflik atau kebutuhan lain.
7. Rendahnya kesadaran masyarakat dalam konservasi alam dan rendahnya penegakan hukum dibidang “Wildlife Crime” telah pula mempercepat penurunan populasi harimau Sumatera di alam.
Sebagian masyarakat melakukan tindakan sendiri dan tidak memperhatikan kaidah konservasi, yaitu dengan cara melakukan penangkapan dengan jerat bahkan sampai pada pembunuhan terhadap satwa tersebut. Kondisi seperti ini apabila tidak segera ditangani maka akan terjadi tindakan yang berulang-ulang dan dianggap benar. Selain itu penangkapan harimau bermasalah oleh oknum masyarakat tertentu sering disalahgunakan untuk melakukan pemburuan dan perdagangan harimau secara liar.
Agar penanganan harimau bermasalah dapat lebih menjamin kelestarian populasi harimau Sumatera di alam, Program Konservasi Harimau Sumatera sejak Tahun 2003 mengembangkan “teknis penangkapan dan pelepasliaran kembali ke habitat alami” bagi harimau penyebab konflik. Untuk menghindari pengaruh buruk akibat penangkapan, maka diupayakan secepat mungkin harimau yang berhasil ditangkap dengan segera dilepaskan ke habitatnya tanpa penggunaan obat bius. Sampai dengan Bulan Juni Tahun 2005 telah berhasil dilepasliarkan kehabitatnya 4 (empat) ekor harimau bermasalah di Hutan Senepis
Konservasi Harimau Sumatera Secara Komprehensif
Harimau Sumatera merupakan satwa endemik yang penyebarannya hanya terdapat di Pulau Sumatera saja. Sebelumnya, populasi Harimau Sumatera sangat banyak tersebar, mulai dari Aceh, di daerah dataran rendah Indragiri, Lumbu Dalam, Sungai Litur, Batang Serangan, Jambi dan Sungai Siak, Silindung, bahkan juga di daratan Bengkalis dan Kepulauan Riau. Pada saat ini, jumlahnya jauh berkurang dengan penyebaran yang terbatas.
Untuk mencegah terjadinya kepunahan harimau Sumatera dan memulihkan kembali populasi harimau yang berada pada tingkat tidak sehat ke tingkat populasi sehat diperlukan tindakan yang secara simultan dapat mengatasi faktor-faktor penyebab kepunahan harimau Sumatera tersebut di atas.
Kondisi seperti ini apabila tidak ditangani secara serius dan intensif dapat dipastikan bahwa populasi harimau Sumatera di alam akan menurun secara cepat dan dalam waktu yang tidak lama akan punah seperti yang telah terjadi pada harimau Bali, Kaspia dan harimau Jawa yang sudah dianggap punah.
Sumatera Tiger Conservation Program. Sebagai bentuk Kerjasama antara Departemen Kehutanan dengan The Tiger Foundation Canada dan Sumatran Tiger Trust Inggris berupaya untuk mengembangkan program konservasi harimau Sumatera yang secara komprehensip dapat mengatasi faktor penyebab menurunnya populasi harimau Sumatera. Upaya konservasi yang dilaksanakan oleh Program Konservasi Harimau Sumatera di antaranya adalah:
1. Melakukan studi bioekologi harimau Sumatera.
2. Melakukan perluasan habitat harimau Sumatera yang berada diluar kawasan konservasi sebagai kawasan yang dilindungi untuk konservasi harimau Sumatera.
3. Meningkatkan kegiatan perlindungan harimau Sumatera dan habitatnya.
4. Meningkatkan kesadaran masyarakat akan konservasi alam dan meningkatkan kwalitas penegakan hukum dibidang ”Wildlife Crime”
5. Meningkatkan kwalitas penanganan konflik antara harimau dengan masyarakat yang dapat menjamin kelesatrian harimau Sumatera.
6. Monitoring populasi harimau Sumatera dihabitat alaminya dalam jangka panjang.
7. Meningkatan kwalitas sumber daya manusia dan kerjasama pengelolaan antara seluruh institusi yang berkepentingan terhadap kelestarian harimau sumatera.
8. Mengembangan Strategi Konservasi Harimau Sumatera di Masa Depan
Monitoring Populasi Harimau dan Habitatnya Jangka Panjang. Untuk mengetahui populasi, penyebaran dan pola aktivitas harimau Sumatera di habitatnya, Program Konservasi Harimau Sumatera melaksanakan pemotretan dengan menggunakan Camera Infra merah.
Demikian pula untuk mengidentifikasi setiap individu harimau Sumatera digunakan analisa pola loreng yang ada pada kulitnya, karena setiap individu harimau memiliki pola loreng yang berbeda dengan individu yang lain. Perbedaan pola loreng pada kulit harimau tersebut sama halnya dengan pola sidik jari manusia. Selain dapat untuk mengidentifikasi individu harimau, hasil pemotretan dengan camera inframerah juga dapat digunakan untuk mengetahui pola aktifitas harian harimau Sumatera, kepadatan dan keragaman jenis satwa mangsa juga keanekaragaman satwa liar lainnya.
Pengembangan Kawasan Perlindungan Harimau. Habitat alami harimau Sumatera sudah mengalami degradasi dan terfragmentasi mejadi habitat yang kecil. Demikian populasi harimau yang hidup di dalamnya sudah terpecah menjadi populasi kecil.
Populasi-populasi tersebut berada dalam status populasi yang sehat, populasi kurang sehat dan populasi tidak sehat serta populasi yang terpencil. Untuk mengetahui status populasi dan kondisi habitat alami harimau yang tersebar Program Konservasi Harimau Sumatera melakukan identifikasi dan inventarisasi habitat dan populasi yang masih memungkinkan untuk diselamatkan. Selain itu Program Konservasi Harimau Sumatera juga memberikan bantuan teknis dan keahlian kepada Pemerintah Daerah maupun Pemerintah Pusat yang akan memperluas, mengembangkan atau mengusulkan kawasan konservasi baru yang berfungsi pula sebagai habitat dan tempat perlindungan harimau sumatera.

HAMPIR setiap hari media di Aceh menurunkan berita tentang konflik manusia dengan satwa. Barangkali, karena seringnya muncul berita tersebut para pemangku kepentingan menjadi bosan sehingga belum ada upaya sistematis menanggulanginya.
Konflik manusia dengan satwa dapat terjadi karena gangguan atau penyempitan kawasan hutan yang merupakan habitat “rumah” mereka. Terganggu tempat kediamannya menyebabkan satwa keluar dengan tujuan mencari makanan dan “rumah baru” untuk kelangsungan hidupnya. Fenomena ini dapat dilihat dari intensitas gangguan dan konflik satwa akhir-akhir ini semakin meningkat sementara populasinya cenderung terus menurun. Populasi Gajah Sumatera (Elephans Maximus Sumatranus) dan Harimau Sumatera (Panthera Tigris Sumatrae) semakin terancam punah.

Perbaikan habitat alami satwa liar, meminimalisisr dan merehabilitasi kerusakan hutan, serta mengontrol pemanfaatan berlebihan jenis flora dan fauna merupakan prasyarat utama dalam penanganan konflik manusia dengan satwa. Pemerintah Aceh dan lembaga terkait harus melakukannya dengan konsisten sehingga masyarakat tidak habeh doa dalam menghadapi konflik satwa yang berkepanjangan.
Gajah, termasuk gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus), merupakan satwa langka dengan ciri khas sepasang gading di samping belalainya. Gading gajah inilah yang menjadi daya tarik tersendiri bagi sebagian orang. Bagi yang mempercayai, gading gajah diyakini memiliki khasiat sebagai jimat, penangkal marabahaya.
























6. SEJAUH MANA KITA DAPAT BERBUAT UNTUK GREEN CHEMISTRY DEMI GREEN PIECE?
Green kimia, juga disebut kimia berkelanjutan, adalah sebuah filosofi penelitian kimia dan rekayasa yang mendorong desain produk dan proses yang meminimalkan penggunaan dan generasi zat berbahaya. [1] Sedangkan lingkungan kimia adalah kimia lingkungan alam, dan bahan kimia polutan di alam, kimia hijau berusaha mengurangi dan mencegah polusi pada sumbernya. Pada 1990, Undang-Undang Pencegahan Polusi disahkan di Amerika Serikat. Tindakan ini membantu menciptakan modus operandi untuk berurusan dengan polusi dan inovatif dalam cara yang asli. Ini bertujuan untuk menghindari masalah sebelum terjadi.
Sebagai filsafat kimia, kimia hijau berlaku untuk kimia organik , kimia anorganik , biokimia , kimia analitis , dan bahkan kimia fisik . Sementara kimia hijau tampaknya berfokus pada aplikasi industri, hal ini berlaku untuk pilihan kimia. Klik kimia sering disebut sebagai sintesis kimia gaya yang konsisten dengan tujuan kimia hijau. Fokusnya adalah meminimalkan bahaya dan memaksimalkan efisiensi dari setiap pilihan kimia. Hal ini berbeda dari kimia lingkungan yang berfokus pada fenomena kimia dalam lingkungan.
Kimia hijau atau green chemistry adalah sebuah paradigma baru yang menggiatkan rancangan proses dan produk yang bisa memperkecil bahkan menghilangkan penggunaan maupun pembentukan bahan kimia beracun dan berbahaya. Sedikit berbeda dengan cakupan bahasan kimia lingkungan yang mengurusi aspek-aspek kimia dalam lingkungan, maka kimia hijau lebih mengarahkan pandangannya pada persoalan mencari metode proses kimia yang lebih ramah lingkungan, mengurangi, dan mencegah polusi serta sumber polusinya.
Bisa dikatakan kimia hijau adalah pengetahuan basi karena hanyalah hasil kolaborasi dari beragam disiplin ilmu kimia yang telah mapan sebelumnya. Tapi yang menjadikan dia bersinar di lingkup disiplin kimia adalah konsepnya. Paradigma kimia hijau ini telah mengundang dan menuntun para ilmuwan untuk mengembangkan inovasi proses kimia yang menggeser, menambah/mengurangi atau memperbaharui proses kimia tradisional-konvensional menjadi lebih ramah terhadap lingkungan maupun manusia tanpa meninggalkan prinsip-prinsip optimasi proses produksi. Berikut ini akan dipaparkan sedikit konsep-prinsip kimia hijau.
Tahun 2005, Ryoji Noyori mengajukan tiga aspek pengembangan kimia hijau, yaitu karbon dioksida superkritis sebagai pelarut hijau, hidrogen peroksida sebagai agen oksidasi hijau, dan penggunaan hidrogen dalam sintesis senyawa asimetris. Aspek-aspek tersebut menjadi jauh lebih beragam seiring dengan berkembang pesatnya gairah ilmuwan bergiat di bidang kimia hijau. Proses kimia dalam reaktor ukuran mikro, proses kimia yang melibatkan cecair ionik (ionic liquids) maupun reaksi kimia dalam pelarut multi fasa adalah sedikit contoh tambahan aspek.
Paul Anastas dan John C. Warner kemudian mengembangkan 12 prinsip demi mendefinikan kimia hijau.
1. Mencegah terbentuknya sampah sisa proses kimia dengan cara merancang sintesa kimia yang mencegah terbentuknya sampah atau polutan.
2. Merancang bahan kimia dan produk turunannya yang aman yang menghasilkan produk kimia yang efektif tapi tanpa atau rendah efek racunnya.
3. Merancang sintesa kimia yang jauh berkurang efek bahayanya, berarti merancang proses dengan menggunakan dan menghasilkan senyawa yang memiliki sedikit atau tanpa efek beracun terhadap manusia dan lingkungan
4. Memanfaatkan asupan proses kimia dari material terbaharukan. Bahan baku dari produk agrikultur atau aquakultur bisa dikatakan sebagai bahan baku terbaharukan, sedangkan hasil pertambangan dikatakan sebagai bahan tak dapat diperbaharui.
5. Menggunakan katalis. Reaksi yang memanfaatkan katalis memiliki keunggulan karena hanya menggunakan sedikit material katalis untuk mempercepat dan menaikkan produktifitas dan proses daur reaksi.
6. Menghindari proses derivatisasi tehadap senyawa kimia. Artinya menghindari tahapan pembentukan senyawa antara atau derivat ketika melakukan reaksi, karena agen derivat tersebut menambah hasil samping atau hanya terbuang percuma sebagai sampah.
7. Memaksimalkan ekonomi atom dengan jalan merancang proses sehingga hasil akhir mengandung perbandingan maksimum terhadap asupan awal proses sehingga tidak menghasilkan sampah atom.
8. Penggunaan pelarut dan kondisi reaksi yang lebih aman dengan cara mencoba menghindari penggunaan pelarut, agen pemisah, atau bahan kimia pembantu lainnya. Pelarut digunakan seminimal mungkin dan tidak menimbulkan masalah pencemaran atau kerusakan terhadap lingkungan dan atmosfer. Air adalah contoh pelarut segala (universal solvent) yang ramah lingkungan.
9. Meningkatkan efisiensi energi yaitu melakukan reaksi pada kondisi mendekati atau sama dengan kondisi alamiah, misalnya suhu ruang dan tekanan atmosfer.
10. Merancang bahan kimia dan produknya yang dapat terdegradasi setelah digunakan menjadi material tidak berbahaya atau tidak terakumulasi setelah digunakan.
11. Analisis pada waktu bersamaan dengan proses produksi untuk mencegah polusi. Dalam sebuah proses, dimasukkan tahapan pengawasan dan pengendalian bersamaan dengan dan sepanjang proses sintesis untuk mengurangi pembentukan produk samping.
12. Memperkecil potensi kecelakaan yaitu merancang bahan kimia dan wujud fisiknya yang dapat meminimalkan potensi kecelakaan kimia misalnya ledakan, kebakaran, atau pelepasan racun ke lingkungan.


SPEKTROFOTOMETER

Spektrofotometri merupakan suatu metoda analisa yang didasarkan pada pengukuran serapan sinar monokromatis oleh suatu lajur larutan berwarna pada panjang gelombamg spesifik dengan menggunakan monokromator prisma atau kisi difraksi dengan detektor fototube
Spektrofotometer adalah alat untuk mengukur transmitan atau absorban suatu sampel sebagai fungsi panjang gelombang. Sedangkan pengukuran menggunakan spektrofotometer ini, metoda yang digunakan sering disebut dengan spektrofotometri. Spektrofotometri dapat dianggap sebagai perluasan suatu pemeriksaan visual dengan studi yang lebih mendalam dari absorbsi energi. Absorbsi radiasi oleh suatu sampel diukur pada berbagai panjang gelombang dan dialirkan oleh suatu perkam untuk menghasilkan spektrum tertentu yang khas untuk komponen yang berbeda.
Macam-macam spektrofotometer :
• X-ray (diffraction) spektrometer
• Vaccum ultraviolet spektrometer
• Ultraviolet-visible spektrofotometer (Spektrofotometer UV-Vis)
• Infra red pektrofotometer (Spektrofotometer IR)

Pada dasarnya spektrofotometer tersusun dari beberapa bagian yaitu :
• Sumber cahaya
• Monokromator
• Tempat sample
• Detektor/ Sensor cahaya
• Sistem pembacaan/komponen elektronik pemroses data

Sebuah spektrofotometer digunakan untuk mengukur jumlah cahaya pada sampel yang diserap. Alat ini beroperasi dengan melewatkan sinar cahaya melalui sampel dan mengukur intensitas cahaya yang mencapai detektor. Berkas cahaya terdiri dari suatu aliran foton, diwakili oleh bola ungu. Ketika foton menemukan molekul analit, ada kemungkinan analit akan menyerap foton. Penyerapan ini mengurangi jumlah foton dalam berkas cahaya, dengan demikian mengurangi intensitas sinar.
SPEKTROFOTOMETER UV/VIS
Yaitu metoda analisa suatu sampel dimana serapan larutan sampel berada pada daerah sinar tampak atau berada pada daerah sinar ultra lembayung.
Langkah Langkah yang Harus Dilakukan
 Pembentukan molekul yang dapat menyerap sinar di daerah sinar tampak (380 s/d 750 nm) atau dapat menyerap sinar di daerah ultra lembayung ( 200 s/d 380 nm).
 Pemilihan panjang gelombang.
 Pembuatan kurva kalibrasi.
 Pengukuran absorbans sampel.

Pembentukan warna
Apabila senyawa yang dianalisa tidak menyerap sinar pada daerah tampak maupun pada daerah ultra lembayung maka senyawa tersebut harus dirubah menjadi senyawa yang menyerap dengan kuat pada daerah tersebut.
Contoh: Analisa besi dikomplekskan dengan menggunakan 1.10 Phenantrolin shg akan berwarna merah.

Syarat pembentukan warna pada Zat Yang Dianalisa
1.Reaksinya dengan zat yang dianalisa harus selektif dan sensitif.
2.Tak boleh membentuk warna dengan zat lain yang ada dalam sampel.
3.Reaksinya dengan zat yang dianalisa harus berlangsung dengan cepat dan
sempurna.
4.Warna yang ditimbulkan harus stabil untuk jangka waktu agak lama (tidak
terlalu pendek).
5.Pengaruh PH terhadap kompleks berwarna yang terjadi harus diketahui.

Cara mengatasi adanya zat lain yang mungkin ikut bereaksi dengan pengompleks.
1.Penambahan zat penopang.
2.Pengaturan PH.
3.Pengubahan bilangan oksidasi.
4.Menggunakan teknik-teknik pemisahan.

A. ALAT SPEKTROFOTOMETER VIS


SKEMA SPEKTRONIK 20







GAMBAR SKEMATIS SEDERHANA SPEKTROFOTOMETER UV/VIS


PERALATAN SPEKTROFOTOMETER

 Sumber Sinar :
1.Digunakan lampu wolfram untuk sinar tampak
2.Digunakan lampu Awa muatan hidrogen atau deuterium untuk sinar UV.
Adapun syarat -syarat sumber sinar
1.Memancarkan spektrum yang kontinou.
2.Mempunyai intensitas tinggi pada panjang gelombang yang dikehendaki.


Gambar: Intensitas sumber terhadap Panjang gelombang diberikan pada temperatur tentu.


 Monokhromator
1. Dengan prisma
Ada 3 jenis prisma sebagai monokromator
 Prisma dengan sudut puncak 60o (monokhromator Bunsen) seperti gambar diatas.
 Prisma dengan susunan menurut Cornu

Prisma ini terbuat dari kwarsa. Prisma cornu merupakan prisma dengan sudut puncak 60o yang terdiri dari 2 buah prisma 30o yang dilekatkan satu sama lain. Prisma yang satu memutar bidang polarisasi kekiri (aktivitas optik -) dan yang lain memutar bidang polarisasi kekanan (aktivitas optik +). Prisma ini digabungkan sehingga perbedaan kecepatan menjalarnya sinar-sinar yang terpolarisasi akan terhapus.

 Prisma dengan susunan menurut Littrow
Yaitu suatu prisma yang bersudut puncak yang bersudut puncak 30o yang Salah satu sisinya yang tegak dilapisi dengan lapisan tipis logam Al atau Ag. Sinar yang masuk ke dalam prisma akan dipantulkan kembali pada sisi yang dilapisi logam. Dengan demikian berkas sinar masuk dan keluar pada permukaan prisma yang sama dikem-balikan seperti pada prisma 60o.



2. Dengan Kisi Difraksi Transmisi
Adalah alat pendispersi sinar dimana dispersi pada kisi difraksi didasarkan pada peristiwa interferensi antara berkas-berkas sinar yang didifraksikan pada jalur-jalur kisi. Kisi difraksi diperoleh dengan jalan menggariskan jalur-jalur yang lurus sejajar dan sangat berdekatan satu sama lainnya pada permukaan pelat kaca atau bahan tembus sinar. Permukaan kisi difraksi kira-kira mempunyai 15.000 jalur tiap inci atau 6000 jalur tiap cm.


Kisi Difraksi Transmisi
Berkas sinar dibiarkan tembus melalui kisi difraksi (pelat kaca yang transparan) dan digariskan jalur-jalur sejajar maka berkas tersebut akan dipecah menjadi sejumlah berkas lain. Salah satu berkas jalannya lurus seolah-olah pelat kaca tidak mengandung jalur2. Berkas lainnya mengalami penyimpangan dari arah lurus tersebut dengan sudut penyimpangan yang berbeda. Besar sudut penyimpangan itu bergantung dari jarak antara tiap 2 jalur dan dari panjang gelombang sinar. Karena ada penyimpangan maka sebagian besar mengalami interferensi destruktif . Hanya pada arah tertentu saja yang mengalami interferensi konstruktif. Misalnya pada arah sudut θ dari garis normal.



CARA MENGGUNAKAN ALAT UV-VIS
1. Alat spektrofotometer dihidupkan dan digunakan untuk pemanasan selama
15 menit.
2. Disiapkan larutan sampel. Apabila sampel tidak berwarna maka ditambahkan
pengompleks sehingga zat yang akan dianalisa dapat bereaksi dengan
pengompleks dan membentuk warna tertentu.
3. Disiapkan sederetan larutan standar yang telah diketahui konsentrasinya dan
kemudian diperlakukan sama dengan sampel sehingga larutan ini menjadi
larutan yang berwarna.
4. Disiapkan larutan blanko (berisi pelarut dan zat-zat lain kecuali zat yang
dianalisa.
5. Dimasukkan larutan blanko dalam kuvet kemudian diatur A nya = nol atau
%T= 100% dan %T = nol.
6. Diatur panjang gelombangnya pada panjang gelombang optimum.
7. Larutan sampel diukur A nya atau %T nya dan kemudian dicatat.
8. Sederetan larutan standar diukur A nya atau %T nya dan dicatat.
9. Dibuat kurva kalibrasi.
10.Harga A dari sampel dikonsultasikan ke kurva kalibrasi untuk menentukan
konsentrasinya.

DIAGRAM SINGGLE BEAM SPEKTROFOTOMETER SEDERHANA


CARA KERJA SINGLE BEAM
• Sinar tampak dari lampu folfram didispersikan oleh kisi difraksi (mempunyai 600 jalur kisi per mm). Celah masuk dan celah keluar mempunyai lebar pita (band width) yang konstan sebesar 20 nm.
• Kisi difraksi dapat diputar dengan pertolongan tombol panjang gelombang yang telah dikalibrasi, untuk memilih panjang gelombang yang dikehendaki.
• Dengan pertolongan occluder (penghalang) maka jalan sinar dapat ditutup sehingga tidak ada sinar yang mencapai detektor.Pada kebanyakan spektrofotometer memasang penghalang jalan sinar dilakukan dengan memutar tombol penutup, tapi pada spektronik 20 dengan jalan mengosongkan tempat kuvet (otomatis jalan sinar tertutup).tertutupnya jalan sinar ini digunakan untuk mengatur pembacaan 0 %T dan pembacaan 100 %T dengan jalan memasang kuvet yang telah diisi dengan blanko.

B. PRINSIP KERJA ALAT UV-VIS
Sinar putih yang dinyalakan dari lampu tungsten masuk melalui celah kecil yang kemudian didispersi oleh kisi difraksi atau prisma. Terbentuk polikromatis (terdiri dari panjang gelombang yang banyak). Kemudian masuk ke celah kedua yang akan menghasilkan sinar monokromatis (berbentuk sempit dan lurus) yang akan diteruskan ke sampel. Ada cahaya yang diserap dan ada cahaya yang diteruskan, cahaya yang diteruskan ini menuju phototube. Pada phototube cahaya monokromatis akan diukur intensitasnya. Hasil akhirnya adalah berupa cahaya monokromatis.

C. SYARAT SAMPEL UV/VIS

• Sampel untuk UV / Vis spektrofotometri paling sering cairan, meskipun absorbansi gas dan bahkan padatan juga dapat diukur.
• Sampel biasanya ditempatkan dalam transparan sel, yang dikenal sebagai mangkuk yg dihiasi dgn ukiran. Biasanya berbentuk persegi panjang, dengan lebar internal 1 cm.
• Uji tabung juga dapat digunakan sebagai cuvettes dalam beberapa instrumen.
• Jenis wadah sampel yang digunakan harus memungkinkan radiasi untuk melewati daerah spektral yang diminati
• Yang berlaku secara luas cuvettes sebagian besar terbuat dari kualitas tinggi leburan silika atau kuarsa kaca karena ini adalah transparan seluruh UV, tampak dan dekat daerah inframerah.
• Kaca dan cuvettes plastik juga umum, meskipun sebagian besar plastik dan kaca menyerap di UV, yang membatasi kegunaan mereka untuk panjang gelombang terlihat.
Metode spektroskopi sinar tampak berdasarkan penyerapan sinar tampak oleh suatu larutan berwarna. Oleh karena itu metode ini dikenal juga metode kalorimeter. Hanya larutan senyawa berwarna yang dapat ditentukan dengaan metode ini. Senyawa tak berwarna dapat dibuat berwarna ddengan mereaksikannya dengan pereaksi yang menghasilkan senyawa berwarna. Contoh. Ion Fe3+, dengan ion CNS-

Pada spektroskopi UV cahaya yang diserap bukan cahaya tampak tapi cahaya ultra ungu. Dengan cara ini larutan tak berwarna dapat diukur, contoh: aseton, asetaldehid.




























TUGAS KOORDINASI
RESUME SPEKTROFOTOMETER









Disusun Oleh:
1. Ade Gustanti(A1F008022)
2. Amelia Herlina(A1F008024)
3. Winda Lestari(A1F008057)
4. Merina Rejayanti(A1F008043)
5. Nesti(A1F008046)
6. Jemi andala(A1F008009)

Dosen Pembimbing : Wiwit, M.Si.

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS BENGKULU
2010


MELTING APPARATUS

Titik Lebur
Titik lebur yang solid adalah temperatur di mana tekanan uap dari padat dan cair adalah sama. Pada titik lebur fase padat dan cair ada dalam keseimbangan. Ketika dianggap sebagai perubahan suhu sebaliknya dari cair ke padat, ini disebut sebagai titik beku. Karena kemampuan beberapa bahan untuk superkeren , titik beku tidak dianggap sebagai properti karakteristik suatu zat. Ketika "titik beku karakteristik" suatu zat ditentukan, sebenarnya metodologi yang sebenarnya hampir selalu "prinsip mengamati hilangnya daripada pembentukan es", yaitu, titik lebur .

Melting Point
Melting Point adalah parameter standar untuk menentukan pemurnian sampel, untuk mengidentifikasi dan menjelaskan produk atau untuk mengukur campuran isi. Metode analisis ini secara luas dibentuk dan tindakan karakteristik dasar setiap senyawa kimia. titik leleh Suatu senyawa organik adalah salah satu dari beberapa sifat fisik oleh yang diidentifikasi. Sebuah properti fisik adalah properti yang intrinsik untuk senyawa ketika itu adalah murni. Karena titik leleh relatif mudah dan murah untuk menentukan, mereka adalah alat identifikasi yang berguna untuk ahli kimia organik.
Sebuah alat sederhana zona leleh telah dibangun untuk pemurnian leleh rendah <230 ° C senyawa] organik. Sebuah alat titik leleh adalah instrumen ilmiah yang digunakan untuk menentukan titik lebur suatu zat. Empat jenis titik lebur aparat adalah tabung Thiele , Fisher-Johns aparat, Gallenkamp (Elektronik) titik leleh aparat dan titik lebur aparat otomatis. Beberapa model khusus ini termasuk Büchi B-540, yang MEL-TEMP 3.0, dan aparat-Fisher Johns. Sementara desain luar dari aparat dapat sangat bervariasi, sebagian besar aparat menggunakan sampel dimasukkan ke sebuah kapiler disegel (titik lebur kapiler) yang kemudian ditempatkan pada alat tersebut. Sampel ini kemudian dipanaskan, baik oleh blok pemanasan atau mandi minyak, dan karena suhu meningkat sampel diamati untuk mendeteksi ketika perubahan fase dari padat menjadi cair terjadi. Operator atau mesin akan merekam berbagai tahap awal dari perubahan parsial ke titik perubahan fasa lengkap. rentang ini mendefinisikan titik leleh sampel yang diamati yang diuji. Aparatur biasanya memiliki panel kontrol yang memungkinkan suhu awal dan akhir, serta gradien suhu (dalam ° C per menit) yang akan diprogram. Beberapa mesin telah beberapa saluran yang memungkinkan lebih dari satu sampel untuk diuji pada suatu waktu. Panel kontrol mungkin memiliki tombol yang memungkinkan awal dan akhir kisaran titik leleh untuk direkam. Preparasi Sampel Keceroboh persiapan sampel adalah penyebab utama tidak akuratnya hasil dalam penentuan titik lebur. Hal-hal yang sedang dimuat ke dalam kapiler titik leleh harus: 1. Kering sepenuhnya 2. Homogen 3. Dalam bentuk bubuk Persyaratan utama untuk penentuan titik lebur yang baik adalah bahwa sampel dalam bentuk serbuk halus. Hal ini membuat transfer panas ke dalam sampel lebih dan direproduksi, dan juga meningkatkan reflektifitas secara keseluruhan sampel untuk deteksi otomatis lebih mudah dari meleleh.Kristal kasar dan non- homogen harus dihancurkan menjadi serbuk halus di lesung.Sebuah batu akik, kaca atau alumina mortar dan alu direkomendasikan. Digital Melting Point Apparatus Fungsi : Untuk mengukur titik Leleh Sample Sfesifikasi : a. Brand : Electrothermalb. Country : England Ltd.c. Type : No.2451 Prinsip Kerja : Bahan yang dimasukan pada tempatnya, kemudian dipanaskan dan tingkat kelelehan dapat diketahui .Pipa kapiler akan menghisap sampel. Kemudian pipa tersebut dibekukan setelah itu dimasukkan ke dalam wadah sampel di bagian atas alat. Dilihat melalui lensa saat bahan meleleh. Tekan HOLD makan akan muncu suhu pada layar display. Cara Kerja Alat MEL-TEMP aparat Menentukan titik lebur senyawa adalah salah satu cara untuk menguji apakah substansi murni. Zat murni umumnya memiliki jangkauanleleh (perbedaan antara suhu di mana sampel mulai mencair dan suhu dimana leleh selesai) dari satu atau dua derajat. Pengotor cenderung untukmenekan dan memperluas jangkauan mencair sehingga sampel murni harus memiliki rentang lebur yang lebih tinggi dan lebih kecil dari sampel, asli murni. 1. Isi tabung kapiler dengan kristal sekitar 3 mm tinggi. Masukkan tabung kapiler (ujung terbuka ke bawah) ke dalam kristal dan tekan pada bagian bawah piring kristalisasi untuk mendapatkan kristal ke dalam tabung. Angkatan kristal meluncur ke dasar tabung menggunakan salah satu metode berikut: tekan tabung (akhir membuka) di bangku laboratorium; drop tabung kapiler melalui sepotong kaki 2-3 dari tabung kaca, atau menggosok kapiler tabung sepanjang sepotong kawat kasa. 2. Tempatkan tabung kapiler di aparat titik lebur MEL-TEMP. Mengatur MEL- TEMP pada tingkat yang cukup tinggi untuk membuat penentuan titik lebur cepat. Mengamati proses peleburan meskipun lensa pembesar. 3. Setelah berbagai titik leleh ditentukan, menyiapkan lain tabung kapiler (tabung hanya boleh digunakan sekali dan kemudian dibuang) dan untuk menetapkan MEL-TEMP ke tingkat daya yang sesuai, berdasarkan tingkat kekuatan grafik temperatur. Kali ini, pastikan bahwa peningkatan suhu tidak lebih dari 2oC per menit. Sekali lagi, amati melalui lensa. Aplikasi : untuk mengetahui titik leleh bahan berwujud padat seperti margarine dan lainnya Komponen Alat :Tombol LensaON/OFF Flammer Capillary Tubes HeaterDisplay Hold Coarse Controler Min,Fine,or Max Course Control Setting Penujuk angka digital / ˚C 3,0 MEL-TEMP GAMBAR ALAT : 3,0 mel-temp Rentang temperatur: ambien untuk 400 ° C Suhu sensor: platinum RTD Suhu akurasi: ± 0,5 ° C 20-200 ° C ± 1 ° 200-400 ° C dengan pabrik kalibrasi. Pengguna dapat mengkalibrasi hingga 0.1 ° C akurasi pada suhu tertentu menggunakan sebuah leleh standar kalibrasi titik Petunjuk Membersihkan Umum Usap permukaan eksterior dengan ringan dibasahi kain yang mengandung larutan sabun ringan. Kalibrasi 3,0 MEL-TEMP Anda telah dikalibrasi pabrik pada suhu kamar dengan termometer-NIST dilacak mometer untuk ± 0.2 ° C. Jika perlu Anda dapat dengan mudah mengkonfirmasi dan / atau mengubah instrumen's Calibra- kasi. The MEL-TEMP 3,0 dapat dikalibrasi tiga cara berbeda: Metode 1 - Kalibrasi dengan Peleburan Point Standar: Tentukan rentang pencairan titik lebur standar dengan Anda MEL-TEMP 3,0 di tindak dengan cara: 1. Untuk akurasi terbesar, pastikan untuk menggunakan tingkat pemanasan yang sama yang Anda USU- sekutu digunakan untuk jarak lebur Penentuan- tions. Jika ada suhu berbeda- antara rentang lebur yang Anda baru saja ditentukan dan rentang tercetak pada titik lebur standar yang kontainer, menuliskannya dengan jelas. 2. Tekan terus tombol UP dan DOWN PANAH tombol secara bersamaan selama lima detik. Release kunci saat layar lebih rendah CAL1 dibaca. Kemudian tekan tombol UP atau DOWN ARROW kunci menyesuaikan CAL1. Ini akan menggeser tempera- pembacaan layar mendatang. Misalnya, jika tampilan suhu 0,5 ° C membaca terlalu rendah ketika titik lebur standar diuji, kemudian tingkatkan CAL1 sebesar 0,5.Proses ini calibrates unit ke titik lebur standar. Metode 2 - Menggunakan Bath Kalibrasi: 1. Hapus semua kapiler dari instrumen. 2. Tekan tombol [SET] tombol. Kemudian gunakan DOWN ARROW tombol untuk mengatur Mulai (Suhu mulai) untuk 0,0 ° C. 3. Tekan tombol [SET] tombol tiga kali sehingga bahwa unit menampilkan arus blok suhu di atas dis- bermain dan 0,0 ° C di bawah layar. kipas akan menyala. 4. Tunggu sampai layar atas kali dibaca 50,0 ° C atau lebih dingin sebelum melanjutkan dengan prosedur ini. 5. Lepaskan thumbscrews hitam dari kanan dan sisi kiri unit dan angkat dari penutup. 6. Pegang bagian vertikal dari temperature probe tepat di atas logam blok (bahwa kapiler masuk ke dalam) dan probe tarik perlahan ke atas sementara simul- taneously mengangkat grommet hitam dan kabel probe temperatur putih dan keluar dari bagian logam lembaran bahwa kipas angin terpasang. Berhati-hati tidak membengkokkan probe atau terlalu menarik keras pada kabel probe's - mungkin rusak jika tidak ditangani dengan lembut. Metode 3 - Menggunakan sebuah Referensi Termokopel dan Elektronik Termometer 1. Biarkan MEL-TEMP 3,0 untuk menstabilkan beberapa derajat di bawah kalibrasi suhu yang Anda butuhkan. 2. Masukkan termokopel halus menjadi 3 - 5mm kolom atau alumina magnesia di titik lebur kapiler. 3. Masukkan kapiler dan termokopel ke salah satu lubang kapiler. 4. Mulai ramping. Untuk accu-terbesar segar, pastikan untuk menggunakan pemanasan yang sama tingkat yang biasanya Anda gunakan untuk lebur penentuan rentang. 5. Ketika termometer referensi membaca kalibrasi suhu yang dikehendaki- mendatang, catatan suhu berbeda- ence antara referensi elektronik termometer dan MEL-TEMP 3.0 's atas layar. 6. Tekan terus tombol UP dan DOWN PANAH kunci secara bersamaan untuk sekitar lima detik. Release kedua tombol ketika layar lebih rendah kali dibaca CAL1. Kemudian tekan UP atau DOWN PANAH kunci untuk menyesuaikan CAL1. Hal ini akan menggeser tampilan pembacaan suhu. Misalnya, jika suhu dis- bermain kali dibaca 0,5 ° C lebih rendah dari termometer itu atau mocouple's referensi termometer, kemudian tingkatkan CAL1 sebesar 0,5. Ini proses calibrates unit ke referensi termometer. ALAT Beberapa contoh alat melting apparatus : Melting Point Apparatus MPA100 Opti Melt menyediakan cara cepat dan akurat secara otomatis menentukan titik leleh dan leleh berkisar antara zat kimia. Dengan-dikendalikan mikroprosesor temerature ramping, sebuah, built-in kamera digital dengan harga jual yang setengah dari model yang ersaing, Opti Melt menawarkan nilai terbaik dari setiap titik lebur tersedia alat komersial. Pengukuran otomatis OptiMelt dirancang khusus untuk operasi tanpa pengawasan. Ia memiliki built-in kamera digital yang terus menangkap gambar waktu nyata dari sampel, dan menggunakan pengolahan citra digital untuk menentukan hasil. titik leleh dan rentang yang mencair yang ditampilkan pada panel depan dan dicatat secara otomatis ke dalam memori untuk diperiksa nanti. Operasi OptiMelt memiliki panel depan sangat intuitif dan mudah digunakan. Cukup pilih suhu mulai, laju jalan, suhu berhenti, dan mulai memukul. Hasil dapat dengan mudah dilihat dari seluruh laboratorium di layar LCD besar. Contoh dapat dilihat pada panel depan melalui lensa perbesaran dilepas. Selama pengukuran, Anda relevan bendera peristiwa bisa dengan menekan tombol di panel depan berdedikasi. Sampai dengan enam suhu individu dapat ditandai untuk masing-masing sampel. Pengukuran Cepat Itu, desain oven aluminium kecil, bersama dengan suhu dikontrol ramping-mikroprosesor, menyediakan cepat dan repeatable pemanasan dan pendinginan bersepeda. Programmable tarif jalan dari 0,1 º C / menit sampai 20 º C / menit, dalam 0,1 º C / min peningkatan, memberikan fleksibilitas pengukuran. Kemampuan untuk secara cepat memanaskan lebih dulu oven ke suhu mulai sedikit di bawah titik leleh diharapkan meminimalkan waktu analisis. Hasil Akurat OptiMelt menggunakan sebuah platinum RTD sensor dan membuat pengukuran suhu 400 ° C dengan resolusi 0,1 ° C. Hal ini mudah dikalibrasi di lapangan terhadap standar referensi bersertifikat dan sesuai dengan protokol Pharmacopeia modern. Instrumen mengingat tanggal kalibrasi terakhir yang termasuk dalam semua laporan. OptiMelt memenuhi persyaratan GLP modern untuk penentuan titik lebur memori. Sampai dengan 24 metode analisis yang berbeda dapat disimpan dalam. Delapan titik leleh laporan lengkap juga dapat disimpan. Rekaman dapat ditampilkan pada panel depan, dicetak, atau ditransfer ke PC melalui USB host. Percetakan meliputi identifikasi teknisi dan ruang untuk tanda tangan. Pengolahan Citra Digital Sistem OptiMelt adalah unik di antara analisa titik leleh. Ia memiliki built-in, kamera digital resolusi tinggi untuk menangkap gambar waktu nyata dari sampel. Hal ini kemudian menggunakan pengolahan citra digital untuk menentukan transisi fase pada sampel. titik leleh tanpa pengawasan, dan rentang titik lebur ditentukan oleh OptiMelt, erat hasil pertandingan visual. gambar digital OptiMelt's algoritma pengolahan memberikan perbaikan dramatis atas penyerapan optik atau teknik refleksi. The Window MeltView menampilkan perangkat lunak hidup, gambar resolusi tinggi setiap sampel selama analisis. Layar-gambar diambil tiga ke kanan dikumpulkan pada saat lelehan khas. 1 menunjukkan Gambar sampel padat unmelted, angka 2 menunjukkan titik meniskus, dan angka 3 sesuai dengan akhir mencair (titik jelas). gambar tersimpan mungkin ingat setiap saat, dan dapat diputar ulang frame-by-frame atau film. Thermometer Input dan Timer OptiMelt adalah aparat hanya titik lebur yang juga dapat digunakan sebagai tujuan-umum termometer digital dan timer. Di antara penentuan titik lebur, OptiMelt dapat digunakan dengan RTD Pt untuk mengukur dan log suhu di sekitar laboratorium. Tiga built-in timer juga tersedia untuk melacak peristiwa waktunya selama percobaan. Kapiler Ukuran 1,4 mm sampai 2,0 mm di luar dialog., 100 mm panjang Kapasitas Sampai 3 tabung secara bersamaan Isi tinggi 2 mm sampai 3 mm Daya 90-264 VAC, 47-63 Hz, 125 W Suhu operasi 0 ° C sampai 40 ° C, non-kondensasi Ukuran 7,5 "× 10" × 8,5 "(WHL) Contoh alat-alat lainnya : SPEKTROFOTOMETRI Spektrofotometri merupakan suatu metoda analisa yang didasarkan pada pengukuran serapan sinar monokromatis oleh suatu lajur larutan berwarna pada panjang gelombamg spesifik dengan menggunakan monokromator prisma atau kisi difraksi dengan detektor fototube. Spektrofotometri dapat dianggap sebagai perluasan suatu pemeriksaan visual dengan studi yang lebih mendalam dari absorbsi energi. Absorbsi radiasi oleh suatu sampel diukur pada berbagai panjang gelombang dan dialirkan oleh suatu perkam untuk menghasilkan spektrum tertentu yang khas untuk komponen yang berbeda. a. Pemilihan panjang gelombang Berbagai satuan digunakan untuk panjang gelombang, bergantung pada daerah spektrum, untuk radiasi UV dan tampak digunakan satuan dan nanometer dengan meluas. Sedangkan mikrometer merupakan satuan yang lazim untuk daerah inframerah. Satu mikrometer, µm, didefinisikan sebagai m dan satu nanometer, nm, m atau cm. Satu satuan adalah m atau cm. Jadi 1 nm = 10 . Gambar 4. Spektrum elektromagnetik Benda bercahaya seperti matahari atau bohlam listrik memancarkan spektrum yang lebar terdiri atas panjang gelombang. Panjang gelombang yang dikaitkan dengan cahaya tampak itu mampu mempengaruhi selaput pelangi mata manusia dan karenanya menimbulkan kesan subyektif akan ketampakan (vision). Namun, banyak radiasi yang dipancarkan oleh benda panas terletak di luar daerah di mana mata itu peka, mengenai daerah UV dan inframerah dari spektrum yang terletak di kiri dan kanan daerah tampak. Dalam analisis secara spektrofotometri terdapat tiga daerah panjang gelombang elektromagnetik yang digunakan, yaitu: - Daerah UV ;  = 200 – 380 nm - Daerah visible (tampak);  = 380 – 780 nm - Daerah inframerah (IR);  = 780 – 0,3  Manusia dengan ketampakan warna yang normal, dapat mengkorelasikan panjang gelombang cahaya yang mengenai mata dengan indera subjektif mengenai warna, dan memang warna kadang-kadang digunakan agar tidak repot untuk menandai porsi-porsi spektrum tertentu, seperti dipaparkan dalam klasifikasi kasar dalam tabel 4 di bawah ini. Tabel 4. Spektrum Tampak dan Warna-warna Komplementer Panjang gelombang (nm) Warna Warna Komplementer 400 – 435 Lembayung (violet) Kuning-hijau 435 – 480 Biru Kuning 480 – 490 Hijau-biru Jingga 490 – 500 Biru-hijau Merah 500 – 560 Hijau Ungu (purple) 560 – 580 Kuning-hijau Lembayung (violet) 580 – 595 Kuning Biru 595 – 610 Jingga Hijau-biru 610 – 750 Merah Biru-hijau Tabel 5. Spektrum cahaya tampak (visible) Warna Interval  Interval  Red 625 to 740 nm 480 to 405 THz Orange 590 to 625 nm 510 to 480 THz Yellow 565 to 590 nm 530 to 510 THz Green 520 to 565 nm 580 to 530 THz Cyan 500 to 520 nm 600 to 580 THz Blue 430 to 500 nm 700 to 600 THz Violet 380 to 430 nm 790 to 700 THz b. Aspek Kuantitatif Absorbsi Spektra serapan dapat diperoleh dengan menggunakan sampel dalam berbagai bentuk gas, lapisan tipis cairan, larutan dalam berbagai pelarut, dan bahkan zat padat. Kebanyakan analitis melibatkan larutan, dengan cara mengembangkan pemberian kuantitatif dari hubungan antara konsentrasi suatu larutan dan kemampuannya menyerap radiasi. Prinsip kerja spektrofotometri berdasarkan hukum Lambert Beer, bila cahaya monokromatik (Io) melalui suatu media (larutan), maka sebagian cahaya tersebut diserap (Ia), sebagian dipantulkan (Ir), dan sebagian lagi dipancarkan (It). Ilustrasi jalannya sinar pada spektrofotometer dapat dilihat pada gambar dibawah ini: Gambar 5. Ilustrasi jalannya sinar spektrofotometri Keterangan gambar: Besarnya Ia oleh media tergantung pada kepekatan dan jenis media serta panjang media yang dilalui. Biasanya panjang media sudah tetap dalam suatu alat. Persamaan hukum Lambert Beer adalah: Transmitans adalah perbandingan intensitas cahaya yang ditransmisikan ketika melewati sampel (It) dengan intensitas cahaya mula-mula sebelum melewati sampel (Io).  adalah absorpsifitas molar atau koefisien molar ”extinction”, nilainya dipengaruhi oleh sifat-sifat khas dari materi yang diradiasi. Jika konsentrasi dalam satuan gram/liter maka  dapat diganti dengan a disebut sebagai ”absorpsivitas spesifik”. Jadi, . Persyaratan hukum Lambert Beer, antara lain: 1) Radiasi yang digunakan harus monokromatik, 2) Energi radiasi yang diabsorpsi oleh sampel tidak menimbulkan reaksi kimia, jadi proses yang terjadi benar-benar absorpsi, 3) Sampel (larutan) yang mengabsorpsi harus homogen, 4) Tidak terjadi fluoresensi atau phosporesensi, dan 5) Indeks refraksi tidak berpengaruh terhadap konsentrasi, jadi larutan tidak pekat (harus encer). SPEKTROFOTOMETER UV -VIS Spektrofotometer adalah alat untuk mengukur transmitan atau absorban suatu sampel sebagai fungsi panjang gelombang. Spektrofotometer merupakan gabungan dari alat optik dan elektronika serta sifat-sifat kimia fisiknya dimana detektor yang digunakan secara langsung dapat mengukur intensitas dari cahaya yang dipancarkan (It) dan secara tidak lansung cahaya yang diabsorbsi (Ia), jadi tergantung pada spektrum elektromagnetik yang diabsorb oleh benda. Tiap media akan menyerap cahaya pada panjang gelombang tertentu tergantung pada senyawaan atau warna terbentuk. Secara garis besar spektrofotometer terdiri dari 4 bagian penting yaitu : a. Sumber Cahaya Sebagai sumber cahaya pada spektrofotometer, haruslah memiliki pancaran radiasi yang stabil dan intensitasnya tinggi. Sumber energi cahaya yang biasa untuk daerah tampak, ultraviolet dekat, dan inframerah dekat adalah sebuah lampu pijar dengan kawat rambut terbuat dari wolfram (tungsten). Lampu ini mirip dengan bola lampu pijar biasa, daerah panjang gelombang () adalah 350-2200 nanometer (nm). Gambar 1. Lampu wolfram Di bawah kira-kira 350 nm, keluaran lampu wolfram itu tidak memadai untuk spektrofotometer dan harus digunakan sumber yang berbeda. Paling lazim adalah lampu tabung tidak bermuatan (discas) hidrogen (atau deuterium) 175 ke 375 atau 400 nm. Lampu hidrogen atau lampu deuterium digunakan untuk sumber pada daerah ultraviolet (UV). Gambar 2. Lampu deuterium Kebaikan lampu wolfarm adalah energi radiasi yang dibebaskan tidak bervariasi pada berbagai panjang gelombang. Sumber cahaya untuk spektrofotometer inframerah, sekitar 2 ke 15 m menggunakan pemijar Nernst (Nernst glower). b. Monokromator Monokromator adalah alat yang berfungsi untuk menguraikan cahaya polikromatis menjadi beberapa komponen panjang gelombang tertentu (monokromatis) yang berbeda (terdispersi). Ada 2 macam monokromator yaitu: 1) Prisma 2) Grating (kisi difraksi) Keuntungan menggunakan kisi difraksi : - Dispersi sinar merata - Dispersi lebih baik dengan ukuran pendispersi yang sama - Dapat digunakan dalam seluruh jangkauan spectrum Cahaya monokromatis ini dapat dipilih panjang gelombang tertentu yang sesuai untuk kemudian dilewatkan melalui celah sempit yang disebut slit. Ketelitian dari monokromator dipengaruhi juga oleh lebar celah (slit width) yang dipakai. c. Cuvet Cuvet spektrofotometer adalah suatu alat yang digunakan sebagai tempat contoh atau cuplikan yang akan dianalisis. Cuvet harus memenuhi syarat- syarat sebagai berikut : 1) Tidak berwarna sehingga dapat mentransmisikan semua cahaya. 2) Permukaannya secara optis harus benar- benar sejajar. 3) Harus tahan (tidak bereaksi) terhadap bahan- bahan kimia. 4) Tidak boleh rapuh. 5) Mempunyai bentuk (design) yang sederhana. Cuvet biasanya terbuat dari kwarsa, plexiglass, kaca, plastic dengan bentuk tabung empat persegi panjang 1 x 1 cm dan tinggi 5 cm. Pada pengukuran di daerah UV dipakai cuvet kwarsa atau plexiglass, sedangkan cuvet dari kaca tidak dapat dipakai sebab kaca mengabsorbsi sinar UV. Semua macam cuvet dapat dipakai untuk pengukuran di daerah sinar tampak (visible). Syarat sampel untuk absorbsi sinar tampak adalah larutan harus berwarna. Larutan cuplikan yang tidak berwarna atau berwarna lemah dapat dibuat berwarna dengan mereaksikannya dengan suatu pereaksi yang dapat menghasilkan suatu zat berwarna. Contoh, larutan nitrit dibuat berwarna oleh pereaksi sulfanilamide dan N-(1-naftil)-etilendiamina. Syarat lainnya konsentrasi harus rendah dibawah 0,01M karena pengaruh interaksi molekul-molekul tak berarti untuk konsentrasi yang rendah, jika konsentrasinya diatas 0,01M maka jarak rata-rata di antara zat pengabsorbsi menjadi kecil sehingga masing-masing zat mempengaruhi distribusi tetangganya. Interaksi ini dapat mengubah kemampuan mengabsorbsi cahaya pada panjang gelombang yang diberikan. Oleh karena itu interaksi ini bergantung pada konsentrasi. Selain syarat tersebut, syarat lainnya yaitu zat yang diukur stabil dan larutan yang diukur harus jernih. d. Detektor Peranan detektor penerima adalah memberikan respon terhadap cahaya pada berbagai panjang gelombang. Detektor akan mengubah cahaya menjadi sinyal listrik yang selanjutnya akan ditampilkan oleh penampil data dalam bentuk jarum penunjuk atau angka digital. Syarat-syarat ideal sebuah detektor : 1) Kepekan yang tinggi 2) Perbandingan isyarat atau signal dengan bising tinggi 3) Respon konstan pada berbagai panjang gelombang. 4) Waktu respon cepat dan signal minimum tanpa radiasi. 5) Signal listrik yang dihasilkan harus sebanding dengan tenaga radiasi. Sebagai detektor untuk Spektrofotometer UV - Vis biasanya digunakan : 1) Photo tube 2) Barrier Layer Cell 3) Photo Multiplier Tube Arus listrik yang dihasilkan oleh detektor kemudian diperkuat dengan amplifier dan akhirnya diukur oleh indikator biasanya berupa recorder analog atau komputer. Berdasarkan konfigurasi optiknya terdapat 3 jenis spektrofotometer: a. Spektrofotometer single beam (berkas tunggal) Pada spektrofotometer ini hanya terdapat satu berkas sinar yang dilewatkan melalui cuvet. Blanko, larutan standar dan contoh diperiksa secara bergantian. b. Spektrofotometer double beam (berkas ganda) Pada alat ini sinar dari sumber cahaya dibagi menjadi 2 berkas oleh cermin yang berputar (chopper). - Berkas pertama melalui cuvet berisi blanko - Berkas kedua melalui cuvet berisi standar atau contoh Blanko dan contoh diperiksa secara bersamaan seperti terlihat pada gambar. Blanko berguna untuk menstabilkan absorbsi akibat perubahan voltase atau Io dari sumber cahaya. Dengan adanya blanko dalam alat kita tidak lagi mengontrol titik nolnya pada waktu-waktu tertentu, hal ini berbeda jika pada single beam. c. Multi Channel • Tanpa monokromator • Mendispersikan cahaya dengan panjang gelombang yang sama • Mahal • Resolusi terbatas PENYERAPAN SINAR UV & VISIBEL OLEH MOLEKUL Penyerapan (absorbsi) sinar UV dan Visibel pada umumnya dihasilkan oleh eksitasi elektron-elektron ikatan. Jenis penyerapan energi UV dan Visibel : a. Penyerapan oleh transisi elektron ikatan dan elektron anti ikatan Perpindahan/lompatan elektron yang mungkin terjadi akibat adanya sinar adalah: Pada tiap kemungkinan, suatu elektron tereksitasi dari orbital yang terisi penuh ke orbital anti-ikatan yang kosong. Tiap lompatan elektron memerlukan energi dari sinar, dan lompatan yang besar pasti membutuhkan energi yang lebih besar dari pada lompatan yang kecil. Suatu spektrometer serapan bekerja pada daerah panjang gelombang sekitar 200 nm (pada ultra-violet dekat) sampai sekitar 800 nm (pada infra-merah sangat dekat). Lompatan elektron yang mungkin menyerap sinar pada daerah itu jumlahnya terbatas. Lompatan yang penting ditunjukan dengan panah hitam, dan yang tidak mungkin dengan warna abu-abu. Panah dengan titik-titik abu-abu menunjukan lompatan yang menyerap sinar di luar daerah spektrum yang kita amati. Ingat bahwa lompatan yang lebih besar membutuhkan energi yang lebih besar dan menyerap sinar dengan panjang gelombang yang lebih pendek. Lompatan yang ditunjukan dengan tanda panah abu-abu menyerap sinar UV dengan panjang gelombang yang lebih rendah dari 200 nm. Lompatan yang penting diantaranya: • Dari orbital pi ikatan ke orbital pi anti-ikatan; • Dari orbital non-ikatan ke orbital pi anti-ikatan; • Dari orbital non-ikatan ke orbital sigma anti-ikatan. Artinya untuk menyerap sinar pada daerah antara 200 – 800 nm (pada daerah dimana spektra diukur), molekul harus mengandung ikatan pi atau terdapat atom dengan orbital non-ikatan. Ingat bahwa orbital non-ikatan adalah pasangan elektron bebas, misalnya pada oksigen, nitrogen, atau halogen. Bagian molekul yang dapat menyerap sinar disebut sebagai gugus kromofor. Absorbsi Anion Anorganik Sejumlah anion anorganik memperlihatkan puncak absorbsi ultraviolet sebagai akibat transisi electron nàp*. Contoh meliputi yaitu anion nàp* nitrate (313 nm), karbonat (217 nm), nitrit (360 dan 280 nm), azido (239 nm) dan tritiokarbonat (500 nm). Diagram berikut menunjukkan spektrum serapan sederhana carbonate. Absorbansi (pada sumbu tegak) adalah ukuran banyaknya sinar yang diserap. Nilai yang lebih tinggi, berarti lebih banyak panjang gelombang khas yang diserap. Terlihat puncak serapan pada 217 nm. Ini berada pada daerah ultra-violet dan tidak ada tanda yang menunjukan penyerapan pada daerah sinar tampak berarti carbonate tidak berwarna. Pada carbonate, ada elektron non-ikatan (pasangan electron bebas) dan electron pi sebagai bagian dari ikatan rangkap dua. Artinya bahwa dimungkinkan terjadi dua penyerapan yang penting dari diagram energi terakhir. Anda akan mendapatkan satu elektron tereksitasi dari orbital pi ikatan ke orbital pi anti-ikatan, atau eksitasi elektron pasangan bebas pada oksigen (orbital non-ikatan) ke orbital pi anti-ikatan. Orbital non-ikatan memiliki energi yang lebih tinggi daripada orbital pi ikatan. Artinya, lompatan elektron dari pasangan bebas pada atom oksigen ke orbital pi anti-ikatan memerlukan energi yang lebih rendah. Dapat diartikan juga elektron dari pasangan bebas pada atom oksigen menyerap sinar dengan frekuensi yang lebih rendah dan karena itu panjang gelombangnya lebih tinggi. Karena itu carbonate menyerap sinar dari dua panjang gelombang yang berbeda: • pi ikatan ke pi anti-ikatan puncak serapannya pada 180 nm; • non-ikatan ke pi anti-ikatan puncak serapannya pada kisaran 200-800 nm. Kedua serapan ini berada pada daerah ultra-violet, tetapi sebagian besar spektrometer tidak dapat membaca serapan pada 180 nm karena spektrometer tersebut bekerja pada kisaran 200-800 nm. b. Penyerapan oleh transisi elektron d dan f dari molekul kompleks  Ion logam transisi (golongan B) menyerap pada daerah UV-Vis, proses absorpsi berasal dari transisi elektronik pada orbital 3d dan 4d. Ion-ion dan komplek-komplek dari 18 unsur transisi deret pertama dan kedua cenderung mengabsorbsi sinar tampak.Berbeda dengan unsure-unsur aktinida dan laktinida ,unsure-unsur transisi ini sering mempunyai pita absobsi yang melebar dan sangat dipengaruhi oleh factor lingkungan.Contoh pengaruh lingkungan ditemukan di dalam ion aquo-tembaga(11)yang berwarna biru muda dan biru tua untuk komplek tembaga dengan ammonia.  Seri lanthanide dan actinide : proses absorpsi terjadi sebagai hasil dari transisi elektronik pada orbital 4f dan 5f. Berbeda dengan sifat kebanyakan pengabsorbsi anorganik dan pengabsorbsi organic,spectra ino-ino lantanida dan aktinida meruncing,jelas dank has,yang sedikit dipengaruhi oleh jenis ligan yang bergabung dengan ion logam tersebut.Hail ini dapat disebabkan karena orbital-orbital dalam dihalangi boleh pengaruh luar electron-elektron yang menempati bilangan kuantum utama yang lebih tinggi. c. Penyerapan oleh perpindahan muatan Untuk maksud analitik,zat-zat yang menunjukkan absorbsi perpindahan muatan sangat penting,karena absorbsibvitas molarnya sangat besar(εmak >10.000).Hal ini meningkatkan kesensitipan pendekatan dan penentuan zat-zat pengabsorbsi.Beberapa komplek ano rganik memperlihatkan absorbsi perpindahan muatan dan karenanya disebut komplek perpindahan muatan (Change-transfer complexes).contoh yang umum dari komplek tersebut adalah komplek-komplek besi(III) tiosinat dan fenolat.besi (II)o-penantrolina komplek molekul yodium yodida dan komplek fero-feri sianida yang berwarna biru prussia.
Suatu komplek memperlihatkan spectrum perpindahan muatan,kalau salah satu komponennya mempunyai sifat penunjang electron(electron donor),maka komponen lain yang bersifat penerima electron (elektron acceptor).
Absorbsi radiasi menyebabkan perpindahan electron dari donor ke akseptor.Akibatnya,bentuk tereksitasi merupakan hasil proses oksidasi-reduksi internal.Sifat ini berbeda dengan sifat kromofor organic,dimana electron dalam keadaan tereksitasi berada dalam orbital molekul yang di bentuk oleh dua ataom atau lebih.
Contoh absorbsi perpindahan electron yang terkenal ditemukan di dalam komplek besi(III)tiosianat.Pengabsorbsian foton menghasilkan perpindahan suatu elektrondari ion tiosianat ke orbital ion besi (III).Hasilnya adalah bentuk tereksitasi yang terdiri dari besi (II) dan radikal netral tiosianat SCN.Seperti jenis eksitasi electron lainnya,electron tersebut kembali ke keadaan semulanya setelah waktu tertentu.Kadang-kadang,disosiasi komplek tereksitasi dapat terjadi menghasilkan produk oksidasi-reduksi fotokimia.Semakin besar kecenderungan perpindahan electron,semakin kecil energi diperlukan pada proses perpindahan electron dan menyebabkan komplek mengabsorbsi radiasi pada panjang gelombang yang lebih besar.Contoh,ion tiosianat adalah donor electron yang lebih baik daripada ion klorida.Jadi absorbsi komplek besi (III) klorida terjadi di daerah ultra violet.
Umumnya, di dalam Change-transfer komplek yang melibatkan ion logam-logam bertindak sebagai aseptor electron.Kecuali di dalam kompleks besi (II)o-fenantrolina atau tembaga(I)o-fenantrolina,ligan merupakan akseptor elektrondari ion logam sebagai donor electron.
Senyawa-senyawa organic dapat membentuk charge transfer komplek.Contoh,quinhidron(Quinhydrone),komplek quinine dan hydroquinone dengan perbandingan1:1,memperlihatkan absorbsi yang kuat pada daerah sinar tampak.Contoh lain meliputi komplek-komplek yodium dengan amina,aromatic dan sulfide,








TUGAS
UJIAN AKHIR SEMESTER
STRATEGI PEMBELAJARAN KIMIA II







Disusun oleh

Nama :JEMI ANDALA
NPM : A1F008009
Semester :IV (empat)
Dosen : SALASTRI ROHIAT,S.Pd



PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS BENGKULU
2010
Answers of the questions :
1. Description about "Instructional Media For Learning Chemistry at Senior High School"!
To achieve the success of learning it is necessary to support the media. Many instructional media created and offered to supporting teaching and learning process.
This educational instructional media in many types, kinds, and their usefulness in the delivery or transfer of knowledge and also the media as a tool in the learning process.
Media as a tool in the learning process is a reality that can not be avoided, because teachers who wish to go through the process of transferring knowledge to students as a connective delivery of messages from materials provided by teachers to their students.
Teachers realized that with the help of instructional media, then proes transfer knowledge to students will be more quickly implemented and deliver the content is more easily digested and understood by learners.
To better direct the students absorb the material in terms of teacher submitted lesson, of course, required facilities or appropriate instructional media, relevant, well planned, high quality, well managed and efficient, then there is absolutely instructional media.
For chemical materials in specific learning media need to get better learning outcomes.
As with any chemical material with a discussion of chemical elements for high school. Before we create the appropriate media, then we must understand the content of this material. Diamana this material consists of sub materials including:
1. The existence of chemical elements in nature

2. Grouping and the properties of chemical elements

3. Usefulness and hazards of chemical elements

4. Separation and the creation of chemical elements.

Of materials and sub materials which are then we can determine the appropriate learning media and appropriate, in this case the medium used is varied, including:
1. Using visual media such as pictures and posters
2. Media marbles for the game method
For the first media to give an explanation to the teacher lecture method or by other methods. Teacher gives an explanation of chemical materials in general and comprehensive elements using such visual images and posters that can be purchased at bookstores and stationery shops. Students are usually more easily understand the material by looking directly shape with an attractive picture, then after the teacher then the teacher tries to convey the material to determine the level of understanding of students with games, other than that the game will also be emphasized to the students to deepen their own material in a way memcari discussion of such materials. With an easy to understand visual media and added to the game then students are expected to understand the material well and the game will not be the uptight student in teaching and learning.
The flow is generally from the use of this media:
1. Teachers began to ask questions of material with little material that will be discussed.

2. Then the teacher explains the material using visual media such as pictures and posters.

3. After giving the matter with the help of this visual medium, then the teacher gives a question with the material described previously.

4. Then the teacher took out the marbles where the marbles have been given a number from number one to number 111 where this number represents the number on each element in the periodic table

5. Teachers started the game by having students choose their own marbles that have been given a number and have been randomized.

6. For the first level of students who take these marbles must name and class elements according to the numbers on the marbles and the number of the periodic table without looking at the pictures and posters and books.

7. If students can name and class of these chemicals then students are welcome to sit and was awarded.

8. If the student can not then be given a punishment that is not burdensome and sent back to reading and viewing pictures.

9. For the second level if all students had to get a turn, then students returned to take the marbles to explain more broadly about the chemical element.

10. If siiswa can not then other students will help.

11. Once concluded, the teachers closed the meeting that day.

Visual media and supported by both methods will produce a good learning process with good results too.

2. Description about "Chemistry Teacher"!

Before we know who and what was a chemistry teacher, first we must know what it is teachers. Teachers are educators and teachers in early childhood education, the schools or formal education, basic education and secondary education. Such teachers must have a kind of formal qualification. In a broader definition, every person who teaches something new can be also regarded as a teacher. Some terms that also describe the role of teachers, among others: Lecturer, Mentor, Tutor.
There are many teachers, like teachers of mathematics, physics teacher, teacher of biology and chemistry teacher other teachers.
Chemistry teacher is a special teacher who taught courses in chemistry, where the teacher has a basis in chemistry. Chemistry teachers must be people who really understand the chemistry, so that the knowledge gained disamapaikan appropriate and good results.
A teacher of chemistry in addition to understanding the chemistry of itself, should also be familiar with the spiritual from the students who are taught, that teacher must be chemically conditioned, and understand how to teach chemistry. This can not be separated from the media and methods used by teachers, such as:
 objective approach to learning: this approach is oriented towards the ultimate goal will be achieved.
 concept approach: This approach guided students understand a concept understanding from discussion contained therein.
 environmental approach: linking environmental means in a process of learning - teaching.
 inquiry approach: mean teaching students to control the situation when dealing with the physical world.
 interactive approach: giving an opportunity for students to ask questions and then conduct an investigation relating to the question they ask.
In addition to the approach used, can also be used in a variety of methods. More effective methods for teaching chemistry in a chemistry teacher in senior high school, among others:
 lecture method, lecture method is the material presented orally
 FAQ method, this method can attract and concentrate student.Because with this method the students became more concentrated
 Method of discussion, in this discussion method makes the students' critical thinking that resulted in the exchange of ideas and obtain equality
 Method of demonstration, by presenting the subjects with incident practice a process using visual aids
 Method of assignment, the teacher gives the task so that student learning activities
 experimental method, this method is generally presented by conducting experiments or experiments
Approach and the method chosen to deliver the learning chemistry teachers are critical to the success of the learning process of such chemicals.
Before the teacher determines what method is used, then there are some things that should attention the selection of methods, including:
• The ability of teachers in using methods
• Objectives achieved teaching
• teaching materials students need to learn
• Taking into account the individual differences of students in making use of his senses
• Facilities and infrastructure of existing schools.
With a variety of approaches, methods, and various instructional media is the chemistry would be easily understood by students, but it all does not out of how teachers deliver it. Therefore a teacher must develop a professional in the field particularly in view of the chemistry teachers so that students are taught more like chemistry.